Mengenal Budaya Prancis Lewat Pentas Seni

Sejak 2004, Printemps Français (baca: prongtong frangsey) sudah digelar di Indonesia  untuk menyambut musim semi. Festival ini tidak hanya menampilkan pertunjukan dari seniman Prancis tetapi juga dari Indonesia serta berbagai bentuk kolaborasi, residensi dan konser bersama.

Tahun ini, Printemps Français ditandai dengan kolaborasi antara seniman Prancis dan Indonesia, terutama dalam pertunjukan wayang layang L’Oiseau (Sang Burung) yang akan membuka Printemps Français ke-12 di Yogyakarta (28 April), Jakarta (30 April), Surabaya (4 Mei), Bandung (7 Mei) dan Bali (10 Mei).

Dalam proyek ‘Sang Burung’, Les Rémouleurs yang beranggotakan Gallia Vallet, Olivier Vallet dan Anne Bitran berkolaborasi dengan seniman Indonesia yaitu Bob dari komunitas Marjinal Kolektif (Jakarta), Heri Dono, Rangga Jadoel dan Sugeng Utomo (Yogyakarta),  Gepeng Dewantoro dan Wayang Motekar (Bandung). Pertunjukan wayang layang tersebut akan diiringi musik etnis kontemporer dari Senyawa (Rully Shabara dan Wukir Suryadi); band asal Yogyakarta yang pernah tampil di Melbourne International Jazz Festival 2011.

‘Sang Burung’ akan pentas gratis di Plasa Senayan, Sabtu 30 April 2016 pukul 19.00.

Selain itu akan tampil juga duo musisi lokal, Bottlesmoker yang beranggotakan Anggung Suherman (Angkuy) dan Ryan Adzani (Nobie). Bottlesmoker telah mendapat nama di dunia musik internasional dengan tampil di Asian Festival 2010 di Filipina dan memenangi dua penghargaan dari  AVIMA (Asia Pasific Voice Independent Music Awards) yaitu Juara I kategori Best Electro/Dance Act dan Juara III kategori Best Electro/Dance Song di tahun yang sama.

Bottlesmoker akan tampil di Printemps Français di Auditorium IFI Jakarta pada Jumat 3 Juni 2016 pukul 19.30, dengan tiket seharga 100.000 untuk konser dan juga album CD terbaru mereka.

Bagi pemerhati lagu-lagu film, bisa menyaksikan M83, grup musik yang sering menciptakan orginal score untuk film-film box office. Band yang baru saja merilis album nuansa pop 80-an bertajuk Junk ini dibentuk pada tahun 2001 di Antibes, Prancis Selatan oleh duo Anthony Gonzalez dan Nicolas Fromageau. Dipengaruhi dream pop dan shoegaze, musik elektro pop M83 mencitrakan emosi yang psychedelic.

Anthony Gonzales yang berkreasi pertama kali dengan alat synthetizer pada umur 17 tahun itu mendapatkan inspirasi untuk karyanya baik solo maupun bersama M83 dari nama besar seperti band rock asal Irlandia My Bloody Valentine, band psychedelic dan progressive rock legendaris dari Inggris Pink Flyod dan Tangerine Dream yang didirikan sang pelopor musik elektronik Edgar Froese.

M83 akan menggelar konser pada 21 Mei 2016 di GBK Jakarta dalam rangkaian Printemps Français 2016, bekerja sama dengan Kiostix dan Kiosplay

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s