Chef Francesco, Bertahan dengan Kuliner Otentik Italia

Tak banyak koki pesohor yang tetap bertahan dengan gaya masak tradisional di tengah gempuran tren kuliner yang dinamis. Salah satunya adalah Chef Francesco Balestrieri, pemilik Joe’s Bar di Canberra, Australia.

Chef Francesco membawa kuliner otentik ala Italia ke ibukota Australia sebagai pendamping beragam pilihan jenis wine dan koktail.

Berpegang pada prinsip memasak tradisional yang cenderung bergaya slow cook, Chef Fransesco melengkapi menu dengan bermacam pilihan menarik mulai dari adonan buah zaitun hijau yang dibalur tepung roti, diisi dengan daging dan biji-bijian dan rosemary segar, hingga bermacam pilihan pasta seperti Tagliata Di Manzo con Salsa Verde – yaitu daging sapi yang diberi makan gandum dan direndam dalam scotch, disajikan dengan saus salsa dan kentang manis.

Berikut adalah percakapan ringan dengan Chef Francesco:

Apa yang membuat masakan tradisional Italia begitu mempengaruhi menu Anda? Dan bagaimana hidangan otentik ini menyatu dengan budaya kuliner Australia?

Masakan saya mewakili negeri asal saya. Ada gairah, warna, dan sentuhan cinta di setiap hidangan yang semuanya sangat otentik Italia dan saya racik dari bahan alami yang segar. Warga Australia kini semakin sering bepergian sehingga mereka mulai akrab dengan masakan otentik Italia. Jadi mereka paham apa yang seharusnya tersaji dalam sebuah hidangan otentik Italia.

Seiring perkembangan, apakah masakan Italia modern akan menjadi suatu standar dan tren baru?

Perkembangan teknologi memang membuat pengolahan masakan menjadi lebih cepat. Tapi saya sendiri menganut cara tradisional dengan gaya slow cooking, rasa cinta, dan kesabaran. Saya pikir masakan Italia adalah soal kembali ke tradisional, bukan membuat sesuatu yang baru dan berbeda.

Bagaimana Anda mendapatkan bahan masakan yang otentik Italia di Australia?

Mortadella dan salami saya dapatkan dari kawasan Canberra, jamur truffle banyak yang berkualitas baik di sini, meski saya sering membelinya dari Sydney. Prosciuttos dan parmagiana regana saya datangkan dari Italia. Namun saat ini Australia justru menyediakan banyak produk berkualitas sementara Italia mengalami penurunan standar kualitas bahan makanan.

Pendapat Anda tentang makanan Canberra? Apa keunikannya?

Lima tahun terakhir Canberra mengalami perkembangan ide konsep kuliner. Warga Canberra kini mulai mengenali dan menghargai ragam makanan berkualitas. Lima tahun lalu Canberra hanya kota biasa namun kini soal makanan sudah bisa setara dengan Sydney atau Melbourne. Perubahan yang luar biasa!

Seberapa besar masakan Anda terpengaruh tren kuliner global?

Hingga kini saya masih berusaha menjauh dari tren karena tren kuliner itu mematikan kreativitas. Kenapa harus ikut yang dilakukan orang lain?

Bagi saya makanan adalah kreasi seni saya. Saya berkreasi agar orang lain suka dan tahu bahwa makanan itu datang dari hati saya. Saya lebih memilih resep dan gaya masak tradisional daripada tren yang sekarang ada.

 

Ceritakan tentang diri Anda! Apa yang menginspirasi Anda memasak? Atau apa yang menjadi inspirasi saat Anda di luar dunia masak?

Cinta sejati saya hanya pada makanan, dan inspirasi saya adalah keluarga. Saya selalu tertarik dengan bahan-bahan mentah yang segar untuk masak dan saya selalu senang berkreasi dengan bahan-bahan itu. Saya orangnya sederhana dan fun, tak suka sesuatu yang rumit. Sama seperti  masakan saya.

Apa makanan Italia favorit Anda?

Saya suka cannelonni yang dipanggang dengan ricotta dan sayuran di dalamnya. Saya juga suka gnocchi dengan tomat segar dan saus basil, atau saus buntut sapi yang dimasak dengan perlahan. Waktu kecil saat ibu saya membuka panggangan, akan tercium aroma cannelonni ke seluruh ruangan. Mungkin gara-gara aroma inilah akhirnya saya jadi koki seperti sekarang!

Daerah di Italia yang makanannya paling Anda suka?

Bologna! Di sinilah pusat pasta sedunia dan di tempat ini pula saya pertama kali menimba ilmu masak. Saya juga suka Tuscany karena anggur-anggur terbaiknya.

Apa yang paling Anda suka saat bekerja di dapur?

Saya suka masak dengan gaya slow cooking karena akan memberi waktu untuk menguak rasa asli di dalam makanan itu. Saya suka masak jadi saat masak saya selalu bahagia. Saya juga punya tim yang hebat, karena tanpa tim kamu tak akan punya dapur!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s