Sering Dianggap Merepotkan, Ternyata Traveling Bersama Anak Bisa Lebih Menyenangkan

Traveling. Selain digandrungi anak muda, juga dijadikan aktivitas wajib bagi sebagian keluarga. Tak sedikit yang memilih menghabiskan masa muda dengan jalan-jalan sesering mungkin karena khawatir setelah melepas masa lajang tak lagi bebas jalan-jalan. Namun ada juga yang menjalaninya dengan santai tanpa risau.

Dikenal dengan nama Sonson NS, pria berusia 43 tahun ini sudah menulis beberapa buku perjalanan, seperti Jalan Jalan Keliling Dunia, Panduan Hemat Keliling Australia, Travel City: Destinasi Bangkok, Penang, dan Saigon, dan Travel City: Persiapan Jelajah & Review 30 Destinasi di Asia Tenggara. Sebelum menikah, kegemaran traveling-nya sudah membawanya ke banyak tempat di Indonesia, seperti  Sabang, Aceh, Medan, Bangka, Belitung, Sikuai, Padang, Palembang, Lampung, Ujung Kulon hingga Sempu, Bogor hingga Dieng, Bali, Lombok, Pontianak, Makassar, hingga Merauke. Itu belum termasuk paspornya yang sudah mengoleksi stempel imigrasi Tiongkok (Beijing, Xian,Cengdu, Tibet), termasuk Hong Kong dan Macau, Korea Selatan (Seoul, Jeju), Jepang (kota-kota Jepang Tengah, termasuk Tokyo), Australia (Sydney, Melbourne, Brisbane), dan India.

Namun setelah berkeluarga, dosen di Universitas Telkom, Bandung ini justru semakin bersemangat mengajak keluarganya traveling. Kedua anaknya, Mosaiq Wirasunda (6 tahun) dan Shafiq Wiksasunda (4 tahun) pun turut melanglang buana. Kami sempat berbincang dengan Sonson NS seputar traveling bersama anak.

 

Bersama dengan keluarga, saat ini sudah traveling ke mana saja ke luar negeri?

Untuk Asia ke Singapura, Malaysia, Thailand, Kamboja, Vietnam, Korea Selatan, dan Tiongkok. Setiap negara, beberapa kota besarnya sudah dikunjungi.

Destinasi mana yang paling difavoritkan oleh anak-anak selama traveling ke luar negeri?

Paling menyenangkan adalah waktu anak-anak traveling ke Thailand. Pertama ke pulau Samui, kemudian ke Bangkok, dan Ayuthaya menggunakan kereta ekonomi. Anak-anak senang sekali. Di seluruh kota-kota Asia Tenggara sampai ke Korea Selatan dan Tiongkok, hampir semua tempat disukai kecuali Kuala Lumpur yang menurut anak-anak ramai, panas, hiruk-pikuk dan kurang menyenangkan.

 

Ada tips khusus agar anak tidak rewel dalam penerbangan long-haul?

Kalau naik pesawat, pilih perjalanan malam. Kalau tidak dapat tiket pesawat malam, misal dapat penerbangan pagi atau siang, bisa mengajak anak main dahulu. Jangan sampai tidur sebelum penerbangan, jadi begitu naik pesawat, anak sudah mengantuk, dan tinggal tidur di pesawat.

Pengalaman membawa anak dari Singapura ke Beijing dan dari Kuala Lumpur ke Seoul harus melalui penerbangan yang cukup lama. Kebetulan dapat tiket pesawat malam, jadinya anak tidur selama perjalanan. Kalau naik bus, pengalaman perjalanan malam antar kota di Myanmar, saya pilih bus malam. Delapan jam selama perjalanan anak tidur pulas.

Intinya, usahakan beli tiket perjalanan malam dan usahakan pula dapat kursi bus sejajar. Bawa bekal makan dan minum untuk mengantisipasi bila anak rewel.

Pernah juga mengalami perjalanan jauh dengan moda yang berbeda. Sewaktu dari Samui ke Bangkok, perjalanan dimulai jam 06:00 dari hotel ke dermaga selama dua jam. Kemudian menyebrang dengan feri selama tiga jam. Dari dermaga ke bandara sekitar satu setengah jam, kemudian naik pesawat ke Bangkok, sekitar dua jam. Walau durasinya pendek-pendek, namun bagi anak cukup melelahkan, tapi alhamdulillah anak tidak rewel.

Pernah mengalami pengalaman buruk saat traveling bersama anak?

Dibilang buruk sih tidak, tapi mungkin lebih ke kurang nyaman. Waktu di Vietnam, perjalanan sehabis tur ke Pulau Sapa, pulang kembali ke Hanoi dengan perjalanan selama lima jam. Sepanjang jalan anak nangis dan rewel dan membuat penumpang di bus kesal.

Hal-hal lain seperti anak rewel, susah makan, ngambek tak mau jalan, dan hal kecil lainnya masih dalam batas wajar. Justru anak memberikan banyak kemudahan, seperti antri imigrasi didahulukan. Pernah dapat nomor duduk pesawat dipindah ketempat lebih nyaman. Dapat bonus makanan dari pemilik restoran, upgrade kamar hotel tanpa dikenakan biaya, diberi duduk di bus dan kereta karena menggendong anak.

 

Sebelum berkeluarga Anda sudah suka traveling. Apa yang membuat hobi traveling ini terus berjalan meskipun sudah memiliki anak?

Setelah menikah, keinginan traveling malah semakin besar. Ini karena ingin mengajak dan menunjukkan ke anak bahwa dunia itu luas. Banyak tempat yang bisa dikunjungi. Apalagi kalau sebelum tidur, anak didongengi dengan buku-buku traveling, anak selalu bertanya-tanya kapan bisa pergi tempat yang ada dalam buku.

 

Banyak orang yang melabel dirinya sebagai traveler dan beranggapan: “Puas-puasin traveling sebelum nikah. Nanti kalau sudah menikah tak bebas lagi.” Menurut Anda?

(Tertawa) Ini yang paling sulit, “Puas-puasin traveling sebelum nikah..”.  Setuju! Kalau memang ingin bebas dari “gangguan”. Misalnya, ternyata nanti punya pasangan tidak suka traveling, atau khawatir kalau sudah menikah lalu punya anak dan tidak ada dana untuk bepergian atau sibuk dengan pekerjaan dan lain-lain.

Faktanya, saya pribadi setelah menikah dan punya anak malah ingin terus mengajak anak-anak traveling. Soal rezeki, alhamdulillah, selalu ada.

Intinya, silahkan saja puaskan traveling sebelum nikah. Jika nanti khawatir dapat pasangan yang tak suka jalan-jalan, toh sudah puas dengan traveling selagi belum menikah. Jangan pernah khawatir tak ada dana. Rezeki sudah diatur, tinggal kita pintar me-manage keuangan saja. Membagi rezeki untuk keperluan rumah tangga dan alokasi untuk traveling.

Di usia berapa sebaiknya waktu yang tepat mengajak anak untuk traveling?

Tidak ada batasan usia! Semua kembali kepada kesiapan kita, baik dari sisi dana, waktu dan tentu saja mental. Bepergian pertama dengan anak, dulu itu bahkan waktu anak masih dalam kandungan tujuh bulan. Negara tujuannya adalah Myanmar dengan kondisi yang sedang tidak bagus dan harus bikin visanya di Kuala Lumpur.

Itu memang keputusan yang sedikit nekad, karena waktu beli tiket belum ada tanda kehamilan pada istri. Tapi dengan persiapan matang, alhamdulillah perjalanannya lancar. Bahkan empat tahun kemudian kembali lagi ke Myanmar dengan bawa anak kedua.

 

Ada jadwal rutin untuk traveling bersama keluarga? 

Tidak ada! Rencana traveling biasanya jika ada rezeki, ada tiket promo, dan waktu senggang. Jadi tidak membuat jadwal rutin. Pernah di 2015, tidak direncanakan, dapat rezeki lumayan dan ada tiket promo yang waktunya bersamaan. Dalam setahun tiga kali ke luar negeri dengan waktu selang beberapa bulan. Februari ke Myanmar, Mei ke Seoul, dan Agustus keliling Thailand. 2016 dan 2017 lebih banyak ke dalam negeri.

Lebih seru mana, traveling waktu sebelum berkeluarga atau setelah berkeluarga?

Karena sudah mengalami semuanya, tentu semua seru dengan kualitas dan pengalaman yang berbeda. Saat sendiri, saya bebas menentukan segala hal. Dengan teman atau grup, harus ikut suara terbanyak. Kalau dengan keluarga, harus mempertimbangkan anak. Memilih tempat menginap, rencana makan, dan lain-lain selalu melihat anak dulu.

Namun serunya traveling bersama anak itu harus memadukan mengasuh, mengajak ke tempat yang tidak biasa, bercerita, bermain, berfoto, dan membuat video. Ternyata di dalam itu semua ada kepuasan emosional!

 

Rencananya, ke depan mau traveling ke mana lagi bersama keluarga?

Untuk tahun depan belum ada. Masih tunggu tiket promo dan itu pun kalau sesuai dengan libur sekolah anak dan kalau ada rezeki (tertawa). Tapi sudah ada rencana nanti dua atau tiga tahun lagi ingin ke Turki, Mesir, Yordania dan sekitarnya. Ini karena yang sulung selalu bertanya-tanya soal tempat-tempat tersebut.

 

Ada rencana untuk menulis buku tentang traveling bersama keluarga?

Saat ini sedang menulis cerita perjalanan dengan keluarga. Tapi tak tahu nantinya akan dijadikan buku atau diunggah di blog, mengingat buku traveling sudah lewat booming-nya.  Atau mungkin jadi artikel di majalah atau koran.

 

Sumber foto: Facebook @sonson.ns dan Instagram @sonson-ns

Advertisements