Chef Marco Cueva, Membawa Street Food Peru ke Seminyak

AYA Restaurant Street Art Gallery di Seminyak tampaknya beruntung memiliki koki handal seperti Chef Marco Gueva. Koki asal Peru yang mengantongi jam terbang internasional di Peru, Meksiko, dan Kosta Rika ini akhirnya jatuh cinta pada Bali.

Berbekal ilmu masak dan pengalaman menjadi koki profesional, Chef Marco Gueva tertarik untuk meracik makanan kampung halamannya di Peru dengan bumbu-bumbu lokal Bali yang terkenal eksotis. Dengan ilmu gastronomi yang ia perdalam, Chef Marco Gueva meyakini bahwa makanan Peru dan Indonesia memiliki ikatan dan kesamaan konsep.

Kami mewawancarainya tentang gastronomi Peru yang mendunia dan ketrampilannya mengolah bumbu autentik Indonesia.

Chef Marco Gueva dari AYA Restaurant, Street Art Gallery, Seminyak.

 

Apa yang membuat masakan Peru begitu istimewa?

Bagi saya yang membuat masakan Peru begitu istimewa adalah karena perpaduan budaya dan kekayaan rasa. Di Peru, makanan kami mendapat pengaruh kuat dari budaya makanan Tiongkok, Jepang, Italia, dan Spanyol dan semuanya berbaur dengan bumbu-bumbu lokal yang kaya rasa.

 

Banyak kuliner Indonesia yang mendapat pengaruh dari Amerika Selatan akibat jalur perdagangan dunia di masa lampau. Menurut Anda, apakah kuliner Peru juga banyak terlibat dalam resep makanan Indonesia khususnya makanan Bali?

Betul! Saya percaya kami memiliki pengaruh dan masing-masing tempat memiliki budaya dan gastronominya sendiri. Sama seperti Indonesia yang memilki sate, Jepang yang memiliki yakitori, dan Peru yang memiliki anticuchos. Kami juga punya chaufa seperti Indonesia yang memiliki nasi goreng. Di Peru bisa dilihat bahwa kami memiliki pengaruh kuat makanan Asia.

Baca juga:

Menikmati Hidangan Peru di Jantung Seminyak

Anda menghadirkan street food Peru di AYA Restaurant. Ini hal baru bagi pecinta kuliner di Bali. Mengapa Anda memilih street food sebagai menu andalan?

Di AYA kami memiliki beragam jenis makanan. Kami memiliki menu makanan tradisional dan jajanan jalanan yang kemudian kami racik dengan sentuhan modern. Tujuan saya adalah semua yang datang ke AYA akan menikmati hidangan dengan rasa autentik Peru, selain pengalaman gastronomi dan budaya kami.

Saya memutuskan untuk memasukkan banyak menu street food Peru karena dulu restoran pertama saya di Lima adalah semacam kedai kaki lima.  Menu kami sekarang berdasarkan kenangan saya akan rasa makanan Peru!

 

Di Indonesia sendiri apa street food favorit Anda?

Saya mengidolakan nasi goreng, sop buntut, soto ayam, mi goreng dan sate!

Apa menu yang paling difavoritkan tamu di AYA Restaurant?

Best seller kami adalah Set Menu yang sudah termasuk ceviche, chaufa (nasi goreng khas Peru), anticuchos (sate khas Peru), dan ikan Novoandino.

Di Bali Anda harus bersaing dengan banyak restoran yang menyajikan menu internasional, seperti Italia dan makanan Asia yang kaya rasa. Apakah Anda punya cara khusus untuk mempopulerkan makanan Peru di Bali?

Kami tidak menggunakan trik khusus. Yang kami kerjakan hanya agar pecinta kuliner di Bali mengenal budaya dan gastronomi Peru.

Karena kami adalah restoran Peru pertama di Seminyak, saya yakin bahwa kami menawarkan sesuatu yang akan disukai orang banyak.

 

Apa yang menginspirasi Anda untuk menjadi chef?

Inspirasi saya datang dari ibu saya. Saya dulu belajar untuk menjadi bartender dan saat saya pertama kali belajar untuk membuat canapé bar, ibu saya ternyata sangat menyukai hasil masakan saya. Setidaknya begitu menurut beliau (sambil tertawa). Ibu saya lalu mendorong saya untuk menuntut ilmu sebagai koki dan membantu saya untuk memulai usaha warung agar bisa menerapkan apa yang saya sudah pelajari.

Saya mulai berjualan anticuchos (sate khas Peru) dan creole. Ini juga yang menjadi alasan kenapa banyak menu street food di AYA Restaurant. Di situ ada kenangan tentangan ibu saya dan momen di mana saya memulai karir di dunia gastronomi. 

 

Di AYA Restaurant, Anda memperkenalkan makanan autentik Peru. Seandainya Anda harus memperkenalkan makanan Indonesia di Peru, kira-kira makanan apa yang akan ​Anda tawarkan?​

Di AYA Restaurant, kami menawarkan makanan Peru dengan pengaruh kuliner Asia. Ada perpaduan makanan Peru dan Tiongkok (chifa), Jepang (nikei) dan kuliner Bali. Semua bahannya menggunakan bahan lokal kecuali daging sapi yang kami datangkan dari Australia. Saya berharap suatu hari nanti punya restoran sendiri yang hanya menjual nasi goreng dan sate. Saya belajar banyak soal gastronomi selama saya di Bali dan ini menginspirasi saya untuk menciptakan menu baru!

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s