Museum Macan, Level Baru Menikmati Seni

Museum memang terpinggirkan di Indonesia. Jangankan berkunjung, menyebut “museum” sebagai agenda akhir pekan saja bisa mengundang cela bagi kaum muda. Jangankan pengunjungnya, pengelolanya saja kerap sekarat menyambung nafas tipis kehidupan museum yang kian suram. Tapi itu kisah duka masa lalu. Pegiat seni dan sejarah terus berupaya agar warga Indonesia, khususnya Jakarta mau bertaubat menghargai sejarah dan seni. Museum Macan yang resmi dibuka untuk umum pada Sabtu (4/11/2017) adalah salah satu bukti bahwa museum tak lagi muram bak menjemput ajal. Museum bisa jadi destinasi trendi, baik untuk pecinta sejarah dan seni maupun kaum muda pengumpul follower di Instagram.

Memahami Sejarah Seni dengan Asyik

Memasuki Museum Macan nyaris tak berbeda dengan mendatangi bioskop mewah di ibu kota. Meski menemukan gedung ini cukup sulit karena belum ada papan petunjuk baik yang terlihat dari jalan maupun petunjuk dari tempat parkir menuju lokasi yang tak dekat jaraknya.

Sebelum masuk ke dalam galeri, pengunjung harus membeli tiket masuk seharga Rp 50.000 untuk dewasa dan Rp 30.000 untuk anak. Sebelum masuk, bisa berfoto sejenak di Area Publik yang terang alami oleh cahaya dari luar karena ruangan luas ini berdinding kaca. Museum Macan Sendiri terbagi menjadi enam ruang, yaitu Tiket dan Informasi, Area Publik, Ruang Seni Anak, Sculpture Garden, Area Pameran, dan Toko Museum.

Petugas akan memberi pengarahan beberapa peraturan yang harus dipatuhi. Salah satunya adalah dilarang memotret menggunakan lampu kilat. Mulai 4 November hingga 18 Maret 2018, Museum Macan menggelar pameran bertema Art Turns, World Turns (Seni Berubah, Dunia Berubah) yang memamerkan karya dari 90 seniman lokal dan dunia.

Menikmati karya Andy Warhol, Portrait of Madame Smith (1974)

Pameran ini terbagi menjadi beberapa kategori yang diurutkan berdasarkan zaman, yaitu Bumi, Kampung Halaman dan Manusia yang memamerkan koleksi para maestro sejak pertengahan abad 19 hingga awal abad 20, Kemerdekaan dan Setelahnya yang lahir semasa revolusi kemerdekaan, Pergulatan Seputar Bentuk dan Isi yang merangkum karya di seputar 1950 hingga 1960-an, dan Racikan Global yang melahirkan karya kontemporer setelah reformasi 1998.

Begitu masuk, pengunjung akan disapa oleh lukisan diri Raden Saleh di sisi kanan dan sederet lukisan dari seniman ternama lainnya. Di sisi kiri bisa melihat pembagian era seni di Indonesia yang disajikan dengan data yang detil.

Di bagian tengah, pengunjung bisa dengan bebas mengagumi karya Andy Warhol, Portrait of Madame Smith (1974); Arahmaiani, Lingga Yoni (1994); I Nyoman Masriadi, Juling (2005) dan karya seniman kontemporer lainnya.

 

 

Yukinori Yanagi berhasil mencuri perhatian pengunjung dengan instalasi seninya bertajuk ASEAN +3 (2017) yang memajang bendera-bendera negara anggota ASEAN dengan menggunakan pasir berwarna dan semut. Antar bendera kemudian diberi selang kecil yang saling terhubung. nantinya semut-semut ini akan menembus pasir dan akan bebas menjelajahi bendera-bendera tersebut. Ini menyimbolkan kekuatan sinergi yang dibangun oleh negara-negara ASEAN.

 

 

Terobosan Baru

Sederhananya disebut Museum Macan, tapi gelar lengkapnya sebetulnya Museum of Modern and Contemporary Art in Nusantara (Museum Seni Modern dan Kontemporer di Nusantara – Museum MACAN). Museum dengan nama lengkap terpanjang ini adalah wadah seni pertama di Indonesia yang memberi akses pada publik untuk menikmati perkembangan seni modern dan kontemporer dari Indonesia dan internasional.

Berlokasi di Jalan Panjang No. 5 (arah Kebun Jeruk), museum atraktif dan elegan ini buka dari Selasa hingga Minggu pukul 10:00 hingga 19:00. Bagi yang ingin mempelajari seni lebih jauh, bisa bergabung dengan komunitas MACAN Society dengan iuran Rp 300.000 per tahun untuk dewasa umum, Rp 180.000 per tahun untuk pelajar, dan paket keluarga Rp 750.000 per tahun.

Museum yang sudah lama dinantikan kehadirannya ini membawa harapan baru bagi penikmat seni di Jakarta. Namun di masa awal operasionalnya sepertinya penikmat seni yang datang ke sini harus banyak bersabar dengan ulah para penikmat selfie, vlogger, dan pengunjung yang hanya foto-foto sepanjang galeri tanpa tahu siapa itu Andy Warhol atau bahkan Raden Saleh.

 

Advertisements