Ubud Writers & Readers Festival Berhasil Tingkatkan Gairah Pariwisata Lokal

Di bawah bayang-bayang status Gunung Agung yang sempat tak menentu, ajang Ubud Writers & Readers Festival 2017 pada 25-28 Oktober dinilai sukses meyakinkan pengunjung untuk menikmati acara sekaligus membangkitkan pariwsata lokal yang sempat muram.

Dari data yang dikumpulkan tim UWRF, saat penyelenggaraan festival, termasuk kehadiran penulis mancanegara dan pencinta sastra dalam dan luar negeri, terkumpul kontribusi senilai Rp10,350,000,000 yang dikeluarkan oleh para pengunjung selama enam hari untuk biaya akomodasi di banyak penginapan, transportasi, restauran, spa, yoga, souvenir, museum, galeri, dan acara budaya di sekitar Ubud dan Bali.

Janet DeNeefe, Founder & Director UWRF, berpidato di malam penutupan festival. Foto: Stanny Angga

Dari data tersebut juga tercatat bahwa 96 persen pengunjung yang hadir akan datang kembali untuk UWRF 2018.

Di acara penggalangan dana yang digelar di Museum Blanco pada 26 Oktober lalu, berhasil terkumpul dana sebesar Rp15,000,000, yang selanjutnya akan diserahkan kepada Kopernik, sebuah organisasi nirlaba di Ubud, yang kemudian diteruskan kepada masyarakat di daerah-daerah sekitar Gunung Agung yang terkena dampak aktifitas vulkanik. Malam penggalangan dana ini menghadirkan grup Papermoon Puppet Theater dan grup tari yang diketuai oleh Eko Supriyanto, koreografer asal Indonesia yang berkiprah di panggung internasional. Setiap pengunjung yang hadir dikenakan biaya sebesar Rp100,000 sebagai bentuk donasi.

“Kendati persiapan UWRF dibayangi oleh ketakutan akan aktifitas vulkanik Gunung Agung, kami tetap bertekad untuk terus mendukung masyarakat Bali, yang mana adalah asal muasal terselenggaranya festival ini sendiri,” ujar Janet DeNeefe, Founder & Director UWRF.

 

Bersatunya Pecinta Sastra 

Mengusung tema Origins atau Asal Muasal, selama lima hari UWRF diisi oleh ratusan program yang disusun berdasarkan tema tersebut. UWRF 2017 membawa 160 lebih figur sastra dan seni dari 30 negara di seluruh dunia.

Nama-nama besar dunia sastra nasional maupun internasional seperti NH. Dini, Sutardji Calzoum Bachri, Seno Gumira Ajidarma, Leila S. Chudori, Joko Pinurbo, Intan Paramaditha, Trinity, Jung Chang, Ian Rankin, Simon Winchester, Madeleine Thien, Han Yujoo, dan masih banyak lagi, tampil berdampingan dengan seniman, desainer, sutradara, penari, musisi, dan aktor seperti Pierre Coffin, Djenar Maesa Ayu, Chicco Jericho, Voice of Baceprot, Kan Lumé, Lulu Lutfi Labibi, dan Sakdiyah Ma’ruf.

Pierre Coffin, pencipta tokoh Minion dalam sebuah panel di UWRF 2017. Foto: Stanny Angga

UWRF juga memberikan penghargaan Lifetime Achievement Award kepada legenda hidup sastra Indonesia, NH. Dini, pada malam Gala Opening (25/10/2017) di Puri Saren Ubud. Yang juga menjadi highlight dari UWRF 2017 adalah hadirnya 15 penulis emerging yang dipilih dari Seleksi Penulis Emerging Indonesia yang datang dari beberapa tempat di seluruh pelosok Indonesia.

Ubud Writers & Readers Festival dijadwalkan akan kembali lagi di 2018 pada 24 hingga 28 Oktober. Tema UWRF 2018 akan diumumkan di www.ubudwritersfestival.com pada awal tahun depan.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s