LIFE

Saat Tissa Aunilla Menduniakan Cokelat Indonesia



Bagi sebagian orang, cokelat mungkin sekadar “permen” konsumsi anak-anak. Namun di negara-negara dengan tradisi cokelat yang kuat, produk cokelat tidaklah sekadar pemanis buat anak yang merengek. Dikemas menarik dan diolah dengan serius, cokelat-cokelat dunia kelas premium juga ternyata dibuat dari biji cokelat asal Indonesia. Sementara produsen cokelat di Indonesia sendiri memilih berpangku tangan, tidak demikian dengan Tissa Aunilla! Dengan brand  Pipiltin Cocoa, Tissa berjuang tak hanya mengangkat derajat produk cokelat asli Indonesia, tapi juga petani cokelat. Tissa Aunilla yang juga pernah berkontribusi di ajang Ubud Food Festival ini berbagi kisahnya.

 

Awal mula membuat Pipiltin Cocoa? Kenapa tertarik dengan cokelat?

Awalnya karena terkejut melihat merek cokelat Felchin dari Swiss. Rasanya kaya, teksturnya lembut dan ternyata biji cokelatnya dari Indonesia. Bahkan mereka punya peta Jawa dan deskripsi lengkap soal rasa yang mereka namakan ‘cacao java’. Itulah awal saya tahu kalau ternyata Indonesia adalah produsen biji cokelat nomor tiga terbesar di dunia. Sayangnya tidak ada satupun merek cokelat lokal yang mengangkat soal ini. Jadi, saya dan adik saya, Irvan Helmi memutuskan untuk untuk membuka Pipiltin Cocoa untuk memperkenalkan rasa-rasa unik cokelat Indonesia dengan cara memproduksi premium chocolate couverture dari biji cokelat lokal yang bisa bersaing dengan produk cokelat premium unggulan dunia.

 

Apa saja yang ditawarkan oleh Pipiltin Cocoa?

Produk inti biji cokelat (cocoa nibs) terbagi jadi caramelized cocoa nibs (inti biji cokelat yang dikaramelisasi dengan gula kelapa), dan caramelized cocoa nibs and cashew (inti biji cokelat yang dikaramelisasi dengan gula kelapa dicampur dengan cashew dari Flores). Chocolate bars, terdiri dari 30 varian, yaitu single origin, infused chocolate bars, dan chocolate bars dengan fillings. Produk turunan dari cokelat, yaitu chocolate drinks, chocolate pralines, chocolate pastries, dan plated desserts yang unik.

 


Tantangan yang dihadapi di awal berdirinya Pipiltin Cocoa?

How we create the market, how we introduce single origin chocolate to the market. Karena pada saat itu market untuk cokelat lokal premium belum ada dan konsumsi cokelat di Indonesia yang sangat rendah. Pada saat kami buka Maret 2013, kami lebih fokus ke café chocolate karena konsep ‘dessert’ lebih dikenal oleh orang Indonesia, setelah itu baru kami lebih mudah untuk memperkenalkan rasa-rasa cokelat kami.

 

 

Apa keunikan konsep branding Pipiltin Cocoa?

Kami punya cerita yang kuat tentang karakter rasa cokelat dari masing-masing daerah dan membeli langsung biji-biji cokelat dari petani. Beberapa pabrik cokelat besar banyak yang membeli biji cokelat dari pengepul (middleman). Kami dapat bercerita soal kearifan lokal dari masing-masing daerah dalam proses menghasilkan biji cokelat yang berkualitas, tentang kehidupan petani, dan apa saja harapan mereka ke depan. Kami juga menyampaikan ke pelanggan bahwa kami sangat mendukung sustainability karena kami membeli langsung dari petani sehingga petani dapat harga yang layak.

Dalam packaging, daerah penghasil biji cokelatnya kami design dengan font yang paling besar sehingga mudah terbaca dan daerah asal cokelat mudah dikenali. Bahkan dalam plated dessert dan individual cakes yang kami jual di kafe kami, nama daerah penghasil cokelat kami masukkan ke dalam nama menu.

 

Cerita seru di balik berdirinya Pipiltin Cocoa?

Pada saat tahun kedua kami buka, kami membawa chocolate bar “Tabanan Bali 70%” untuk para petani cokelat di Tabanan.


Mereka sudah menjadi petani cokelat selama 30-40 tahun, tapi ternyata belum pernah makan cokelat – like any type of chocolate!


Ternyata sebabnya adalah proses produksi yang kompleks, bentuk dan rasa yang berbeda antara biji cokelat dan cokelat yang sudah jadi, serta petani menjual biji cokelat ke perantara, sehingga mereka tidak tahu biji cokelat yang mereka hasilkan digunakan untuk apa.

Cerita lain, ada klien besar kami, seorang chef expat yang sebelumnya sangat skeptik dengan cokelat Indonesia, mengenal Pipiltin Cocoa dari istrinya yang seorang blogger. Istrinya membeli Pipiltin di toko Aksara di Pacific Place karena terkesan dengan design packaging, dan akhirnya meminta suaminya untuk mencoba cokelat Pipiltin. Satu minggu kemudian, chef tersebut menghubungi kami dan langsung memesan cokelat dalam blok untuk dimasukkan ke hotel.  Ia kini menjadi salah satu “publicist” kami, dengan membantu mempromosikan Pipiltin ke teman-teman chef dan komunitasnya.

 

Pandangan mengenai industri kuliner Indonesia saat ini?

Sangat berkembang! Profesi chef juga sudah menjadi salah satu profesi yang bergengsi. Industri kuliner yang sangat berkembang saat ini adalah kuliner lokal. Dapat dilihat dari banyaknya restoran dengan makanan Indonesia yang banyak diminati orang.

Apa yang ingin dilihat di industri kuliner Indonesia pada 2018?

Makin berkembangnya dan dihargainya local products!

 

Apa platform sosial media favorit untuk memasarkan produk?

Instagram, karena sangat visual. Foto atau video dapat bercerita banyak tentang brand.

 

Tip atau saran untuk anak-anak muda yang ingin memulai usaha di bidang kuliner?

Tentukan produk apa yang ingin ditawarkan ke pasar. Harus unik dan harus bisa menjelaskan kenapa produk dan brand itu harus ada. Pelajari target market yang diinginkan, dan bagaimana cara menjualnya, buat business plan yang komprehensif agar visi dan misi tidak melenceng jauh meskipun banyak inovasi. Bila business plan sudah final dan ada modal, mulailah secepat mungkin, karena tantangan terbesar dalam bisnis adalah memulai.