LIFE

Rishi Naleendra, Arsitek Peraih Michelin




Makanan Sri Lanka memang tak sepopuler makanan tetangganya, India, yang sudah lebih dulu merasuki nafas kuliner dunia. Namun bukan berarti negeri eksotis ini tak mampu meraih penghargaan kuliner bergengsi, Michelin Star. Rishi Naleendra tercatat sebagai koki Sri Lanka pertama yang berhasil meraih “piala Oscar” para pegiat kuliner tersebut. Karir memasaknya dimulai di Australia justru saat ia mendalami ilmu arsitektur. Berkat kecintaannya pada dunia masak, Rishi kini membuka gerainya sendiri, Cheek by Jowl di Singapura.

Kami berbincang dengan Rishi Naleendra yang juga akan tampil sebagai pembicara di Ubud Food Festival 2018 pada 13 hingga 15 April nanti.

 

Ceritakan tentang kuliner Sri Lanka. Seperti apa karakter makanan di sana, dan apa saja yang wajib dicoba bagi turis yang berkunjung ke Sri Lanka?

Kesalahpahaman terbesar tentang makanan Sri Lanka adalah banyak orang mengira bahwa makanan kami sama dengan makanan India. Padahal tidak! Kami banyak menggunakan kelapa yang masih segar, bumbu-bumbu penguat aroma seperti sereh, pandan, jahe, kemudian sayuran segar, dan berbagai jenis sambal. Makanan Sri Lanka juga banyak dipengaruhi budaya makanan Melayu, India Selatan, budaya Muslim Sri Lanka, Inggris, Belanda dan Portugis.

Kuliner yang wajib coba saat Anda datang ke Sri Lanka adalah kari kepiting khas Sri Lanka, kari babi hitam, egg hopper, daging kambing gulung, pol sambal, dhal, dan kottu rotti.

 

Apa yang membuat Anda mencintai dunia kuliner?

Di Australia, saat saya menjalani masa studi disana dan bekerja di restoran sebagai pencuci piring di sebuah kafe di Melbourne, saya melihat bagamaiana energi dari anak-anak muda yang bekerja dan bersenang-senang dengan pekerjaan dapur mereka. Melihat makanan yang siap dihindangkan membuat saya mulai menyukainya. Selama bekerja di kafe, saya mulai menyukai gaya hidup ini.

 

Pergi ke Australia untuk sekolah arsitektur tapi tiba-tiba mendalami ilmu memasak. Bagaimana reaksi orang di sekitar Anda saat itu, terutama keluarga?

Saya mengatakan pada keluarga saya kalau saya akan sekolah untuk belajar arsitektur selama dua tahun, dan mereka berharap bahwa saya akan menyelesaikan studi saya. Tapi setelah itu juga saya katakan bahwa saya juga punya keinginan saat ini, yaitu memiliki restoran sendiri suatu saat.

 

Selama bekerja di restoran-restoran di Australia, pernahkah membuat menu masakan Sri Lanka?

Tidak pernah. Saya memasak makanan Sri Lanka hanya untuk para staf restoran saja. Ketertarikan saya selalu hanya mempelajari makanan kontemporer dan modern.

 

Mengapa memilih Singapura untuk membuka restoran sendiri?

Sebetulnya awalnya adalah saya berencana pindah ke Singapura untuk keliling Asia. Namun ternyata lebih dari itu. Saya sangat beruntung ternyata Singapura memberikan kesempatan buat saya untuk membuka usaha restoran sendiri. Saya benar-benar beruntung!

 

Anda mempelajari kuliner dari seluruh dunia. Kuliner dari mana yang pengaruhnya paling besar di Cheek by Jowl?

Mnurut saya Australia memberikan pengaruh kuliner yang cukup kuat di restoran saya, karena saya mengawali karir saya sebagai koki di sana.  Sebagian lagi banyak pengaruh kuliner Asia mengingat saya juga pernah bekerja di beberapa restoran fine-dining masakan Asia seperti Tetsuya dan Taxi Dining Room.

Roasted Quail, Chestnut, Mushroom, dan Mint. Menu dari Chef Rishi Naleendra. Foto: Ubud Food Festival

Menu andalan anda di Cheek by Jowl?

Chef’s Tasting Menu! Ini cara terbaik untuk menikmati hasil kreativitas kami. Menu sengaja kami siapkan khusus bila ada tamu yang menginginkan makanan khusus sehubungan dengan diet yang sedang dijalani. Ini cara kami untuk memberikan kejutan pada hidangan bagi semua pelanggan kami.

 

Anda akan datang ke Bali untuk Ubud Food Festival. Pendapat anda tentang makanan Indonesia?

Saya benar-benar menantikan kesempatan untuk mencoba sendiri makanan khas Bali. Makanan Indonesia bagi saya adalah makanan yang kaya rasa dan menggunakan banyak bahan segar yang juga sering saya gunakan. Saya sangat menantikan kesempatan ini.