LIFE

Food Illustration, Nafas Sesak Seni Gambar di Tengah Pusaran Foto Instagenik



Ade Putri Paramadita mungkin menjadi sosok yang tak lazim saat bicara soal dokumentasi makanan untuk media sosial. Menyebut dirinya sebagai food story teller, Ade Putri justru membaktikan dirinya dengan ketrampilan sketching untuk mendokumentasikan makanan secara visual di tengah makin suburnya foto cantik super instan di media sosial.

Penasaran dengan langkah idealisnya, kami memburu Ade Putri dan menjumpainya di Ubud saat gelaran Ubud Food Festival 2018. Di ajang pesta kuliner ini, wanita yang juga aktif sebagai penyiar di FeMale Radio Jakarta 97.9FM ini mengisi sesi ‘Food Illustration’ ditemani Reevo Saulus, desainer muda berbakat yang menetap di Bali.

Reevo Saulus (kiri) dan Ade Putri Paramadita (kanan) dalam sesi Food Illustration di Ubud Food Festival 2018. Foto: Wayan Martino

Food Illustration menjadi menarik karena kini media sosial disinyalir menjadi kunci keberhasilan promosi dunia kuliner yang semakin inovatif. Kemudahan orang untuk berbagi konten tentang makanan tak hanya menyertakan informasi, tapi juga visual manis super instan bak foto besutan fotografer senior yang sudah menimba ilmu belasan tahun. Namun di tengah derasnya animo anak muda untuk mengadu nasib sebagai “pakar” kuliner dengan berbekal kamera premium super canggih, sisi menarik justru lahir dari seni ilustrasi yang seperti membawa kembali manusia ke zaman klasik. Ke masa di mana visual adalah seni yang lahir dari rasa untuk keindahan, bukan turnamen berburu follower dan reparasi laporan digital engagement demi trofi endorsement.


“Aku ini food story teller. Pekerjaanku adalah menceritakan apa yang kumakan, bukan soal enak atau tidaknya. Jadi lebih bercerita soal rasa, tekstur dan bahan-bahan yang digunakan,” terang Ade.


Menggeluti dunia ilustrasi sebetulnya masih merupakan hal baru setidaknya bagi Ade sendiri. Ia mengaku belum terlalu lama jatuh cinta dengan aktivitas seni ini dan semakin jatuh cinta saat menggelutinya lebih jauh.

Ade kemudian mengenang pengalamannya beberapa tahun silam saat dirinya pertama kali jatuh cinta dengan dunia sketching. Saat itu ia bertugas ke Banda Neira untuk memasak makanan lokal. Kepergiannya saat itu ditemani oleh Komunitas Sketch Walker yang juga mempunyai misi mengabadikan kehidupan warga Banda Neira melalui sketching.

Di sinilah kemudian Ade mulai penasaran dengan dunia ilustrasi. Ia kemudian mulai menjajal kemampuannya dalam bidang ilustrasi. Keberhasilan memang tak bisa datang dengan sekejap. Awalnya ia kesulitan untuk menggambar objek terutama manusia. Satu-satunya petuah yang ia dapatkan dari komunitas adalah hanya menggambar saja bersama-sama. Tak ada aturan khusus harus begini dan begitu.

 Dalam menggambar, tak ada yang salah. Kalau ada kekurangan pasti ada yang beri tahu dan kita akan penasaran untuk improve lebih baik lagi,” aku Ade. 

Karena memiliki minat pada dunia kuliner, Ade akhirnya memutuskan untuk mendalami seni ilustrasi makanan. Baginya, setiap makanan memiliki kisah. Baik itu budaya, religi, sejarah atau kondisi geografis, mengungkap kisah di balik makanan akan memiliki nilai tersendiri bila didukung dengan ilustrasi.

Hingga kini Ade selalu membekali diri dengan alat gambar, alat tulis dan sebuah buku sketching yang menjadi jurnal hariannya sekaligus menjadi “akun Instagramnya.”

Lalu, di tengah zaman Instagram dan demam foto bokeh para anak muda bertitel foodies, bagaimana nasib ilustrasi makanan? Bagaimana ia mampu bersaing atau bahkan berani untuk muncul ke permukaan kulit media sosial? Ade Putri sama sekali tak khawatir. “Foto memang lebih simpel dan mungkin cantik. Tapi ilustrasi akan membuat orang lebih penasaran,” tegasnya.

Untuk memulainya pun Ade tak merasa ada yang sulit. Ilustrasi makanan tak membutuhkan orang dengan bakat khusus. Menurutnya, siapa saja bisa melakukannya yang penting ada minat. Siapa saja bisa belajar dan yang penting hangout dengan orang yang tepat.

“Dulu saya dikelilingi oleh orang-orang yang selalu bilang gambar saya jelek. Itu sebabnya saya tak pernah bisa berkembang dalam menggambar,” kenang Ade.

 

Menggambar Bersama

Ade kemudian mengajak kami untuk menggambar bareng. Bertempat di Dumbo, Ubud, kami menjajal ketrampilan ilustrasi makanan. Beberapa objek pun disediakan di meja makan. Nanas, wortel, lemon, paprika, hingga beberapa menu dari Dumbo, Ubud turut disiapkan sebagai objek ilustrasi.

Dumbo sendiri adalah restoran baru yang ikut meramaikan ajang Ubud Food Festival 2018. Mulai beroperasi pada Maret 2018, restoran yang mengandalkan konsep terbuka dan menu Italia kontemporer ini memanjakan kami dengan dining area yang tak begitu luas namun dirancang nyaman dengan dinding terbuka yang menghadap pemandangan rindang lereng-lereng Ubud.

Menggambar bersama di sesi Food Illustration. Foto: Wayan Martino

Masalah pertama untuk menggambar objek adalah bingung menentukan dari mana harus memulai. Reevo Saulus memberikan tip sederhana: mulailah dari bagian paling luar, gambarlah bentuk objek secara utuh. Kemudian perlahan mulai mengisi detil yang ada. Sementara Ade sendiri menyarankan untuk dibantu dengan foto dari telepon pintar. Dengan begitu, kami bisa menentukan sudut mana yang paling bagus untuk digambar.

Kami memilih menu dari Dumbo, Ubud, yaitu arancini dan pumpkin ravioli sebagai objek dengan alasan arancini memiliki bentuk paling sederhana dan tampilan yang tak terlalu rumit untuk diterjemahkan dalam gambar. Namun problem yang kami temukan adalah mengisi detil yang ada, mengingat tekstur arancini yang kasar berupa bintik-bintik seperti remah roti yang digoreng. Sementara pumpkin ravioli memiliki bentuk juga sederhana namun teksturnya sulit untuk digambar.

Selain itu kami juga menambahkan satu buah wortel sebagai objek gambar. Kami justru tak mengalami kesulitan saat harus menggambar wortel. Namun masalahnya adalah bagaimana caranya saat orang pertama kali melihat gambar kami langsung memahami bahwa itu adalah gambar wortel? Kami mengakalinya dengan tekstur garis yang tak rata dan pola titik-titik untuk menambah detil.

Hasilnya? Sama sekali tak mengecewakan! Karena toh tak perlu bakat khusus untuk memulai food illustration. Yang penting ada minat!     

A post shared by traveletc.id (@traveletc.id) on