Now Reading:

5 Festival Literasi yang Bikin Makin Cinta Indonesia

Indonesia sedang rajin menggelar festival. Positifnya, festival yang digelar kini tak sekadar arak-arakan mobil hias, bazar pedagang kaki lima atau pentas tari-tarian. Walau dikenal dengan minat baca rendah di dunia, namun festival literasi kini mulai menunjukkan taji di negeri sendiri. Berikut adalah lima di antaranya:

 

Ubud Writers & Readers Festival

Awalnya digelar sebagai aksi untuk melawan ketakutan akibat tragedi bom Bali. Seiring waktu, festival besutan Janet De Neefe ini semakin berkembang dan diklaim sebagai festival literasi terbesar di Asia Tenggara. Para pembicara yang hadir pun dari banyak negara di dunia dan tak hanya penulis tapi juga para pelaku seni dan budaya. Beberapa tokoh literasi Indonesia yang pernah meramaikan festival ini adalah Dee Lestari, Seno Gumira Aji Dharma, Eka Kurniawan, Sapardi Djoko Damono dan Djenar Maesa Ayu. Menteri Kelautan dan Perikanan Indonesia, Susi Pudjiastuti bahkan turut jadi pembicara pada tahun 2018 ini.

 

ASEAN Literary Festival

Di bawah naungan Muara Foundation, ASEAN Literary Festival (ALF) pertama xkali hadir di Jakarta pada 2014 dengan tema “Anthems for Common People” yang terinspirasi dari perjuangan Wiji Thukul. Abdul Khalik, founder dari ALF menyatakan bahwa acara ini lahir karena latar belakang, kondisi, sosial, budaya yang sama di negara-negara ASEAN. “ALF ingin menjadi wadah dari karya-karya sastra khususnya di ASEAN,” tegasnya.

 

Makassar International Writers Festival

Di bawah komando jurnalis senior Lily Yulianti Farid, Makassar International Writers Festival (MIWF) adalah satu-satunya festival sastra besar yang digelar di Indonesia Timur. Bertempat di Fort Rotterdam, kehadiran MIWF mampu menarik perhatian pecinta sastra dari berbagai wilayah di Indonesia maupun luar negeri. Aan Mansyur, Trinity, Seno Gumira Ajidarma dan Leila Chudori adalah nama-nama besar yang pernah ikut meramaikan acara ini.

 



 

Padang Literary Biennale

Pertama digelar pada 2012, festival ini hadir dalam rangka kritik terhadap minimnya apresiasi kepada para penulis dan sastrawan Minang di kota sendiri. Padahal dari dulu Sumatera Barat terkenal dengan tokoh-tokoh sastranya yang melegenda. Siapa yang tak kenal dengan Marah Rusli, pengarang “Siti Nurbaya” yang melegenda; atau Buya Hamka penulis “Tenggelamnya Kapal Van der Wijck” yang fenomenal itu?

 

Festival Sastra Santarang

Festival yang digagas oleh Komunitas Dusun Flobamara di Kupang ini pertama kali hadir di Nusa Tenggara Timur pada 2015 dengan tujuan mengobarkan kembali semangat kaum muda NTT. Acara yang sempat membuat surprise para pecinta sastra karena diadakan di kota kecil seperti Kupang ini juga didukung oleh Komunitas Salihara Jakarta dan berhasil mendatagkan ratusa pengunjung. Beberapa penulis kondang yang turut meramaikan acara ini adalah Ayu Utami, Hasif Amini dan AS Laksana.

 

Share This Articles
Input your search keywords and press Enter.