Now Reading:

Merindukan Ombak Cimaja


Dede Suryana mungkin tak pernah menyangka bahwa dirinya akan menjadi salah satu tokoh yang paling dihormati di kampung halamannya, Cimaja hanya karena surfing. Ia sudah mengantongi gelar internasional di usia remaja dan terus mengasah dirinya menjadi surfer papan atas dunia. Meski kini tak lagi rajin bertanding, namun dedikasi Dede Suryana dalam industri surfing masih bisa dilihat di Cimaja, Sukabumi.

Terlebih di masa pandemi, di mana pariwisata sedang surut dan industri surfing nyaris berhenti, Dede Suryana justru rajin menggagas kompetisi surfing lokal. Kami menemuinya di ajang “The Power of Eco Surfers Battle”, ajang kompetisi surfing khusus anak-anak di Sunset Beach, Cimaja pada Minggu, 29/11/2020 untuk sekadar berbincang perihal dunia surfing, impian dan unek-uneknya soal pariwisata lokal.


Surfing sambil bersih-bersih
Salah satu cara paling ampuh untuk mencari bakat baru dalam dunia surfing adalah rajin menggelar kompetisi lokal dan memantau peserta berbakat. Setidaknya cara ini cukup memberi ruang pada Dede Suryana untuk membina para surfer muda untuk mengikuti jejaknya. Namun rupanya surfing tak hanya soal mengejar ombak saja buat Dede.

“Di sini setiap latihan surfing saya selalu arahkan anak-anak untuk beach clean up,” terang Dede. Ia termotivasi untuk bersikap cukup keras soal kebersihan berkat keyakinannya bahwa kalau pantai di Cimaja kotor, maka turis tak ada yang mau datang lagi.


The Power Of Eco Surfers Battle 2020


Itu sebabnya pada ajang The Power of Eco Surfers Battle ia juga memberi tantangan untuk peserta mengumpulkan sampah sebanyak-banyaknya dan kemudian pengumpul sampah terbanyak mendapat hadiah. “Penghasil sampah plastik terbesar itu memang Amerika tapi manajemen pengolahan sampah kita ini buruk,” lanjut Dede yang mengakui dirinya berada di sebuah foto viral di mana ia sedang bermain surfing dengan ombak yang penuh sampah plastik.

“Itu saya yang difoto. Lokasinya di Ujung Kulon. Ada pulau tanpa penghuni tapi lautnya sampah semua,” terang Dede.


Foto: @ZakNoyle dari @guardian


Dede yang sudah sejak 2012 menggagas pelatihan surfing buat anak-anak Desa Cimaja ini juga mengaku bahwa untuk menjadi muridnya, anak-anak tak perlu membayar. “Cukup bawa sampah botol plastik saja dan mereka bisa latihan seharian,” tegas Dede.

TRENDING:  Kompetisi Surfing, Babak Baru Pariwisata Lombok

 

 

Mencari surfer baru
Cimaja memang kurang dikenal turis domestik meski namanya sendiri sebetulnya sudah bergaung di dunia sejak lama. Apa lagi kalau bukan karena ombak pantainya yang memikat para surfer global. Dede Suryana sendiri sudah mengantongi gelar juara Asian Surfing Championship (ASC) dan berkiprah di beberapa kompetisi surfing tingkat dunia lainnya.

Kesuksesan Dede kemudian tak membawanya pada rasa puas. Prestasi Dede membuat anak-anak muda Cimaja kemudian berlomba-lomba mengikuti jejaknya menjadi sang jawara pengejar ombak level dunia.

“Saya perhatikan di sini dulu itu banyak banget anak usia dibawah 15 atau 12 tahun yang suka surfing tapi tak terorganisir dengan baik,” jelas Dede.

TRENDING:  Kompetisi Surfing, Babak Baru Pariwisata Lombok

Hadirnya PSOI (Persatuan Selancar Ombak Indonesia) memang jadi angin segar buat Dede Suryana dan anak-anak pengejar ombak. Lembaga pemerintah inilah yang sekarang menjadi wadah bagi anak-anak berbakat di Cimaja. “Saya berharap ke depannya akan ada juara dunia baru dari Sukabumi,” jelas Dede.

Lalu, siapa saja peselancar lokal yang sudah mulai berprestasi? Menurut Dede Suryana ada beberapa nama, seperti Andre Julian, Sandy Slamet, dan Deden  Sutendi. Kompetisi pun termasuk marak di Cimaja. Namun di masa pandemi memang kompetisi berkurang drastis dan hanya mengandalkan kompetisi lokal sekaligus mencari bakat baru di dunia surfing Cimaja.

“Kenapa surfing kurang populer di Indonesia? Pertama, orang Indonesia takut mitos tentang laut. Kedua, orang Indonesia takut hitam kulitnya gara-gara surfing.”


Travellers’ Choice: Surfing, Si Pembangkit Wisata Indonesia


Tak lagi anak tiri
Banyak prestasi di industri surfing bukan berarti daerahnya ikut berprestasi juga. Dede menyesalkan sikap pemerintah yang selama ini belum pernah memberikan bantuan apapun untuk surfing di Cimaja. Meskipun kini sudah ada pengakuan akan potensi besar Cimaja di dunia internasional, namun pemerintah baru sebatas mempromosikan pariwisata, bukan surfingnya.

Padahal surfing-lah yang membuat Cimaja dikenal dunia dan para surfer dunia bila datang ke Cimaja biasanya menetap dari satu minggu hingga satu bulan.

“Banyak destinasi pantai di sini yang sekarang mulai dipromosikan pemerintah, seperti Pantai Citepus, Karang Haji, Loji, Ujung Genteng, Samudera Beach dan banyak lagi,” terang Dede.

TRENDING:  Kompetisi Surfing, Babak Baru Pariwisata Lombok

Cimaja sendiri punya dua pantai populer yang sudah mulai terkenal di kalangan turis lokal. seperti Point, yang berada di Desa Cimaja dan hanya merupakan pantai berbatu. Namun Point adalah tempat para peselancar profesional saling berebut mengejar ombak. Bila ingin pantai berpasir dan landai, coba saja datang ke Sunset Beach yang lebih nyaman buat bersantai. Sunset Beach juga rumah bagi orang-orang yang ingin belajar surfing atau surfer pemula.

Pandemi, kebersihan dan dukungan banyak pihak rupanya masih menjadi halangan besar untuk mempopulerkan wisata di Cimaja, apalagi membumikan surfing. Namun Dede juga optimis setelah pandemi nanti Cimaja akan kembali diramaikan wisatawan asing. Ombak Cimaja akan kembali bergelora untuk menyambut surfer dunia maupun lokal. Profesional maupun pemula.

 

 

Penginapan nyaman di Arya’s Surf Camp

Dengan jarak tempuh selama sekitar lima jam dari Jakarta, Cimaja juga menawarkan banyak surf camp untuk menginap. Salah satunya adalah Arya’s Surfing Camp yang mulai beroperasi resmi pada 1 Desember 2020. Meski hanya sebuah surf camp, namun tempat ini menawarkan kemewahan berupa sebuah suaka untuk menenangkan diri di vila yang nyaman.


Arya’s Surf Camp Cimaja


Arya’s Surf Camp dilengkapi kamar kayu berukuran 25 meter persegi yang dilengkapi balkon dan kursi-kursi kayu bergaya retro. Tak perlu khawatir cuaca panas karena semua unit kamarnya dilengkapi AC dan kipas angin. Perlu minuman dingin? Tempat ini juga menyediakan dispenser air panas dan dingin serta lemari es berukuran sedang.


Arya’s Surf Camp Cimaja

 

Facebook Comments
Share This Articles