Now Reading:

Kimono, Dipuja Kamakura, Dibenci Meiji

Modernisasi boleh melanda Jepang dengan cepat. Negara futuristik yang ekstra sibuk ini tak pernah berhenti menciptakan teknologi baru yang membuat orang berdecak kagum. Namun, Jepang tetaplah Jepang, yang identik dengan wanita berkimono seliweran di gang-gang sempit Osaka, Kyoto dan Takayama.

Kimono bukan sekadar pakaian. Bagi warga lokal, kimono adalah soal jati diri, filosofi, budaya, dan karakter sebuah bangsa. Saat turis-turis memborong permen cokelat rasa green tea untuk oleh-oleh, saya sengaja menyisihkan uang untuk membeli sebuah kimono. Bukan yang mahal sekelas batik tulis di Solo, cukup kimono yang level menengah saja yang sesuai budget.



Pengaruh China

Zaman Heian (794-1185) diyakini sebagai masa awal kimono mulai resmi digunakan sebagai pakaian nasional. Saat itu kimono kerap digunakan dengan hakama yang dipengaruhi gaya China. Hakama adalah rok panjang yang kadang juga berbentuk mirip celana dengan sekat yang memisahkan kaki. Selain itu ada juga mo, sejenis apron sebagai pelengkap busana.

Seiring waktu, gaya berubah dan hakama tak dikenakan lagi dan diganti dengan obi,  selempang lebar yang digunakan di pinggang untuk menahan jubah yang lebar di atasnya.

TRENDING:  Disco 80-an di Debut Keds Edisi Liburan

Traveler’s Choice: Manhole Unik Bertema Pokemon, Cuma Ada di Jepang


Berkat Kamakura

Kimono menjadi semakin banyak dikenakan warga saat menjelang Zaman Kamakura (1185-1333). Di era ini juga diperkirakan lahirnya corak warna-warni pada kimono yang didasarkan pada musim, jenis kelamin atau status sosial dan bahkan simbol politik.

Kamakura memberi ruang gerak lebih luas pada warga Jepang saat itu untuk berkreasi pada kimono. Di zaman ini pula pemakaian layer pada kimono mulai menjadi tren dan terus berkembang hingga lahir minat khusus yaitu seni membuat kimono yang mulai mendapat perhatian luas di Zaman Edo (1603-1868).


Traveler’s Choice: 5 Sepatu Sneakers Paling Populer di Jepang


Meiji yang Mengakhiri

Kalau Zaman Edo adalah masa di mana kimono mendapat kesempatan untuk berkembang pesat, Periode Edo adalah masa puncak keemasan kimono. Seiring lahirnya seni merancang kimono, maka lahir juga jenis-jenis dan model kimono yang semakin beragam.

Kimono benar-benar naik kelas di Zaman Edo dan berkembang menjadi barang warisan berharga. Tak sedikit orang yang membeli atau membuat kimono khusus dengan harga yang mahal, namun hanya disimpan saja dan dijadikan barang penting yang diwariskan dari generasi ke generasi. Di Zaman Edo, beberapa kimono harganya bahkan lebih mahal dari sebuah rumah.

View this post on Instagram

A post shared by YOUR JAPAN (@itsyourjapan) on

Zaman Edo juga membuat nasib kimono ibarat jungkir balik. Setelah menjadi tren dan dijunjung tinggi, kimono kemudian justru dianggap tak nyaman karena terlalu ribet, apalagi dengan selop yang dianggap merepotkan cara berjalan.

TRENDING:  Bergaya Petualang, ini 10 Tato Inspiratif Bertema Traveling

Nasib buruk mulai melanda kimono saat Meiji menguasai Jepang (1868-1912). Meiji yang dianggap condong ke Barat saat itu menghapus kimono dari kamus berbusana Jepang dan memaksa semua orang untuk berpakaian ala Barat.



Traveler’s Choice: 7 Streetwear Ala Jepang, Bekal untuk Bergaya Saat Traveling


Sebetulnya, kimono tetap disukai warga Jepang hingga kini. Ada banyak alasan yang membuatnya begitu disukai orang selain karena unsur tradisionalnya. Salah satunya orang Jepang menganggap kimono itu fleksibel saat digunakan.

View this post on Instagram

A post shared by YOUR JAPAN (@itsyourjapan) on

Kimono dianggap paling bisa beradaptasi dengan cuaca Jepang dan bisa diubah dengan cepat atau dilapisi sesuai dengan musim yang berlangsung. Misalnya kimono tebal berbahan sutera bisa digunakan saat musim gugur dan salju. Sedangkan kimono linen dan katun (dikenal dengan yukata) bisa dikenakan saat musim panas atau semi.

TRENDING:  Suaka Alam Ala "Fashion Rhapsody"

Kini, meskipun Jepang telah berubah menjadi negeri industri dengan teknologi tinggi, namun masih banyak orang yang berlalu lalang mengenakan kimono sehari-hari. Di beberapa acara festival musim panas bahkan tak sedikit warga lokal yang memakai yukata untuk menonton pertunjukan.

 

 

Gambar utama oleh t_watanabe dari Pixabay

Facebook Comments

POPULAR

Share This Articles