Now Reading:

Kisah Cinta Chef Matt White Si Pemburu Pizza

Chef Matt White adalah sosok yang paling bertanggungjawab atas kelezatan pizza di Flat Stanley Bali. Koki pecinta pizza yang belum lama membuka gerainya di Bali setelah sebelumnya sukses dengan beberapa restorannya di Singapura ini jatuh cinta pada pizza sejak usia belia. Saking cintanya bahkan ia dijuluki “Dough Head” atau Si Kepala Adonan oleh rekan-rekannya. Menyambangi restoran barunya di Bali, selain mencicipi pizza kesayangannya, kami juga berbincang dengannya.

“Adonan adalah benda hidup yang perlu dicintai dan dimanja seperti anak kecil atau anak anjing.” – Chef Matt White

Apa yang membuat pizza menjadi begitu spesial buat Anda?
Waktu remaja, saya pernah tinggal di Italia selama satu tahun dan jatuh cinta pada budaya makanannya. Malam pertama di Italia, orang tua saya mengajak kami makan pizza di sebuah kedai yang menghadap ke Laut Adriatik dan kami memesan pizza Margherita. Dinamai begitu karena mengacu pada nama Ratu Italia di akhir abad-19.  Toppingnya cuma tiga, yaitu saus tomat, mozzarella, dan daun kemangi yang ketiganya membentuk warna bendera Italia. Dimasak dengan kayu bakar dalam oven bersuhu 800 derajat, pizza itu seketika membuat pikiran dan selera saya melayang! Saya jadi terobsesi dengan pizza, ke mana pun saya pergi saya selalu berburu pizza terbaik. Ini juga yang saya inginkan sekarang dari Flat Stanley, di mana para pemburu pizza akan mendatangi tempat ini.


Traveler’s Choice: 6 Hostel di Bali ini Tetap Trendi dengan Harga Terjangkau




“Saya tak pernah bosan menjadi ilmuwan gila yang membuat dan mengutak-atik adonan hingga menjadi sesuatu yang lezat untuk dimakan.” – Chef Matt White

Benarkah Anda dijuluki “Dough Head?” Apa cerita di balik julukan itu?
Saya pikir itu lebih merupakan gelar daripada sebuah julukan. Ini terkait dengan obsesi saya yang membuat adonan terus-menerus, belajar dari buku masak, belajar dari sesama pembuat roti dan adonan. Adonan ini menarik. Ia adalah benda hidup yang perlu dicintai dan dimanja seperti anak kecil atau anak anjing. Anda perlu menyesuaikan diri dengan temperatur, kelembaban dan cara tepung menyerap air. Saya tak pernah bosan menjadi ilmuwan gila yang membuat dan mengutak-atik adonan hingga menjadi sesuatu yang lezat untuk dimakan. Adonan adalah tahap ulat dan saat Anda mendapatkan pizza yang siap dimakan terhidang di meja, inilah kupu-kupu dalam tahapan evolusi produk.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Flat Stanley | Pizza Bali 🍕 (@flatstanleypizza) on

Hampir semua makanan Indonesia memiliki sejarah dan filosofinya sendiri-sendiri. Apa filosofi dari pizza?
Filosofi dari pizza adalah cerita yang dibagikan dan kenangan saat Anda berkumpul untuk menikmati pizza itu sendiri bersama sahabat dan keluarga dalam suasana yang hangat. Saat tumbuh dewasa, kedai pizza lokal adalah tempat saya berkumpul dengan keluarga saya, keluarga lain atau keluarga besar. Di sekolah adalah momen terbaik ketika mereka menghidangkan pizza dan saya duduk bersama teman-teman berbagi cerita tentang hari ini dan ada gosip apa. Ini adalah makanan yang menyatukan orang di Amerika, seperti hotpot di Singapura dan nasi tumpeng di Indonesia.


Editor’s Choice: Bingung Cari Hotel di Bali? Coba 5 Airbnb ini!




Apa yang membuat pizza di Flat Stanley begitu berbeda dari pizza di restoran lainnya?
Yang membuat kami unik adalah adonan kami yang difermentasi 48 jam dan topping berkualitas tinggi yang kami masukkan ke dalamnya. Resep adonan sudah saya kerjakan selama dua tahun dan kami menggunakan sourdough starter berumur dua tahun dan akan semakin membaik seiring waktu. Kami juga menggunakan oven dek bertenaga tinggi yang ramah lingkungan sehingga bisa memasak pizza secara merata. Ini gaya unik karena starter tua dan oven yang mengembangkan rasa. Sama seperti wajan atau panci mampu mengembangkan rasa dari waktu ke waktu.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Flat Stanley | Pizza Bali 🍕 (@flatstanleypizza) on

Indonesia, khususnya Bali memiliki bumbu dan bahan makanan yang beragam. Apakah Anda juga memasukkan bahan-bahan ini ke dalam pizza?
Ya kami melakukan itu. Hampir semua bahan kami diproses secara lokal dan dari tanaman lokal. Satu-satunya bahan impor adalah daging dan tomat dari Italia. Namun saat ini saya sedang menjalin kerjasama dengan petani dan peternak lokal untuk mendapatkan varietas yang mirip dengan tomat San Marzano atau Roma. Semua bahan seperti tepung, keju dan sayuran berasal dari Indonesia.


Traveler’s Choice: Menikmati Pizza Retro di Flat Stanley




Selain pizza, apa menu favorit lainnya di Flat Stanley?
Saat ini saya menyukai kol panggang, brokoli bakar, dan jagung bakar. Saya juga suka kentang goreng pada steik kami dan salmon panggang. Untuk hidangan penutup, ada Nutella Snickers yang terkenal dan Espresso Pana Cotta. Menu akan mengalami perubahan kecil karena kami menyesuaikan dengan bahan-bahan musiman dan apa yang disukai pelanggan.




Facebook Comments
Share This Articles