Now Reading:

Makgeolli, Tuak Korea yang Nyaris Punah

 


Dengan tampilannya yang seperti kopi susu dan rasa yang lebih manis, Makgeolli sudah turun-temurun dikenal sebagai tuak khas Korea Selatan yang sering disajikan sebagai pendamping hidangan lokal yang lezat. Sayangnya popularitas Makgeolli mulai menurun pada sekitar 1988 dan dikalahkan oleh Soju.

Makgeolli dengan kandungan alkohol rendah, yaitu 6 hingga 7 persen, menjadi semakin terlupakan saat Soju mulai dikenal di luar Korea Selatan pada awal tahun 2000-an dan menjadi semakin populer. Saat itu pulalah Makgeolli, tuak tertua di Korea Selatan semakin dilupakan bahkan oleh warga Korea sendiri.

View this post on Instagram

A post shared by SeokjinJeong (@einspannerlover) on


Traveler’s Choice: Beckaly Franks: “Bar Adalah DNA Saya”


Minuman kaum pekerja
Sejarah Makgeolli dimulai sekitar 2000 tahun silam. Benar, sudah sangat tua! Ia tercatat dalam sebuah buku catatan kuno berjudul ‘Jewangun-gi‘ di masa Dinasti Goryeo (918-1392) tepatnya saat Raja Dongmyeong memerintah. Kala itu Makgeolli disebut dengan ihwa-ju atau alkohol buah pir, karena minuman ini hanya dibuat khusus pada tahun tertentu yaitu saat pohon pir ini mulai berbuah.

TRENDING:  Jelajah Korea Makin Mudah dengan Fitur Baru Traveloka

Makgeolli juga sering disamakan dengan bir pada bangsa Eropa karena kadar alkoholnya yang rendah dan dikonsumsi oleh rakyat jelata dan kaum pekerja. Itu sebabnya Makgeolli juga dikenal dengan nama nonju yang artinya ‘minuman keras para petani’.


Advertisement


Berbeda dengan Soju yang kini dikenal luas sebagai minuman keras khas Korea Selatan dengan tampilan yang lebih glamor dan trendi, kedua minuman ini secara tidak langsung menunjukkan pertentangan kelas sosial.

Makgeolli sebetulnya masih digunakan sampai saat ini oleh beberapa keluarga untuk merayakan hari tertentu dalam menghormati leluhur dan dijual di beberapa bar. Namun secara umum, produksi Makgeolli semakin pupus akibat Undang-Undang Pajak Minuman Keras pada 1909 yang dikeluarkan Dinasti Joseon. Pada 1964 pemerintah Korea juga mengeluarkan Undang-Undang Pengelolaan Gabah yang akhirnya mengakhiri produksi minuman keras berbasis beras tanpa izin.


Traveler’s Choice: Gogon, si Peracik Koktail Jamu di Grill’d Bali


Mirip dengan Soju
Layaknya Soju, Makgeolli dibuat dari tiga bahan utama, yaitu air, beras dan fermentasi dari nuruk, sejenis kue kering yang berisi bakteri, ragi dan spora jamur Koji.

TRENDING:  9 Festival Seru di Gangwon, Korea Selatan

Bahan-bahan ini kemudian dimasak jadi satu dan didiamkan selama seminggu untuk proses fermentasi dan pemisahan sari pati beras menjadi gula dan kemudian menjadi alkohol. Larutan manis ini dibiarkan mengendap beberapa lama dan cairan bening di bagian atas kemudian dipisahkan.

Dari proses ini lahir beberapa jenis minuman keras, seperti cheonju, larutan murni alkohol yang dijadikan minuman para bangsawan dan Soju, yang lahir dari proses suling larutan cheonju. 

Bagian sedimen yang mengendap pada proses fermentasi disebut takju dan diencerkan dengan air, disaring dan kemudian menjadi Makgeolli.


Advertisement


Kuno dan kini
Ada dua cara untuk menikmati Makgeolli. Pertama adalah cara tradisional, yaitu Makgeolli harus diminum dalam wadah tanah liat dan karena mengandung sedimen, sebelum diminum, ia harus sedikit diaduk atau digoyangkan sebelum dituang.

Cara kedua adalah denga mengunnjungi beberapa bar yang kini juga sudah mulai menyediakan Makgeolli dengan sajian trendi, seperti dicampur dengan minuman ringan dan wadah gelas yang trendi dan modern. Bagi wisatawan yang tak meminum alkohol pun kini tersedia Makgeolli tanpa alkohol. Tapi tentu saja ini tidak murni Makgeolli alias hanya duplikasinya saja dan dibuat untuk memenuhi kebutuhan industri wisata.

TRENDING:  Serunya Main Lumpur di Festival Lumpur Boryeong

Gambar utama oleh macintoy dari Pixabay

Facebook Comments

POPULAR

Share This Articles