Now Reading:

Merekam Dunia ala Febian

Febian Nurrahman Saktinegara punya cara sendiri dalam mencintai dunia traveling. Saat semua orang mendeklarasikan diri sebagai ‘travel blogger’, Febian justru memilih film dokumenter untuk mengabadikan perjalanan. Bermula dari hobi dan terpesona akan karya orang lain, Febian diam-diam mendirikan rumah produksi sendiri bernama EMBARA. Kami berdiskusi dengannya seputar hasrat, kesibukannya kini dan angan-angannya dalam mendokumentasikan perjalanan.

 

Awal mulanya tertarik dengan film?

Gara-gara melihat film karya Yann Arthus-Bertrand. Film-filmnya seperti; Home, Planet Ocean, Human, dan Terra bagi saya benar-benar merupakan sajian audio visual yang luar biasa menyentuh. Tema yang diangkat, narasi yang puitis, gambar yang indah, dan musik yang menyayat, sanggup membuat saya tidak berkedip sepanjang film.



Siapa tokoh yang menjadi inspirasi di dunia film dokumenter?

Tom Lowe, beliau adalah inspirasi awal saya dalam berkarya menggunakan Kamera DSLR. Saya menemukan karyanya yang berjudul “Timescapes” melalui vimeo.com, sejak saat itu, saya langsung tertarik untuk belajar dan mendalami teknik pembuatan timelapse, landscape photography dan astro-photography. Yann Arthus-Bertrand dan film-film dokumenter produksi BBC seperti “Planet Earth II” dan “Blue Planet Earth II” juga berhasil mengubah mindset saya bahwa sebuah film dokumenter bisa dikemas sedemikian rupa menjadi sangat menarik, layaknya film-film aksi produksi Hollywood.

 

Ceritakan tentang EMBARA dan apa tujuan didirikannya?

EMBARA terbentuk tahun 2012 di tengah proses pengerjaan Film EPIC JAVA. Saat itu kami merasa memerlukan satu nama sebagai wadah untuk berkreasi. EMBARA Films adalah rumah produksi film dokumenter independen yang berfokus pada keindahan alam dan budaya. Embara dalam bahasa Sansekerta memiliki arti “Pengelana”, karena Galih Mulya Nugraha dan saya sendiri sebagai pendirinya mempunyai ketertarikan terhadap budaya dan keindahan alam, dan sangat senang menjelajah berbagai tempat dan mendokumentasikannya melalui medium film atau video.



Penghargaan apa saja yang pernah diraih EMBARA Films?

  • Penghargaan Khusus Kategori Film Dokumenter Pendek Festival Film Indonesia (FFI) 2013 (EPIC JAVA),
  • Penghargaan Khusus Piala Maya 2013 (EPIC JAVA),
  • Nominasi Film Dokumenter Panjang Festival Film Indonesia (FFI) 2016 (Indonesia Kirana),
  • Nominasi Film Dokumenter Piala Maya 2016 (Indonesia Kirana),
  • Pemenang Piala Maya 2016 Kategori Video Musik (Tulus – Ruang Sendiri),
  • Nominasi Piala Maya 2017 Kategori Video Musik (Vidi Aldiano – Definisi Bahagia),
  • Pemenang Piala Maya 2017 Kategori Video Musik (Tulus – Manusia Kuat)

 

Indonesia Kirana adalah salah satu karya EMBARA yang unik. Kenapa memilih paduan suara sebagai objek cerita?

Pertama kali kami bertemu dengan perwakilan Paduan Suara Mahasiswa (PSM) UNPAD karena mereka ingin menawari kami sebuah proyek dokumentasi video PSM UNPAD berkompetisi di Eropa. Kami melihat pergerakan ini bisa menjadi sesuatu yang lebih besar daripada hanya sebuah dokumentasi video, saat itu juga tercetus sebuah ide untuk membuat film dengan genre dokumenter.

Kami melihat pergerakan Indonesia Kirana sebagai ranah baru yang menarik untuk kami eksplor, belum banyak, atau bahkan belum kami temukan film dokumenter Indonesia yang mengangkat tema paduan suara. Selain alasan itu, pergerakan mereka dalam menyebarkan nilai-nilai dan semangat positif sangat sejalan dengan visi misi EMBARA Films.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by EMBARA Films (@embarafilms) on

Masih soal Indonesia Kirana, mendokumentasikan pertandingan paduan suara, ini berbeda dari film dokumenter Embara sebelumnya. Kesulitan apa saja yang ditemui di lapangan saat proses pembuatan film ini?

Film-film EMBARA Films sebelumnya (contohnya EPIC JAVA) hanya berfokus pada keindahan alam saja, namun dalam Indonesia Kirana, kami harus menangkap dan menghadirkan emosi manusia. Ini menjadi sebuah tantangan baru, karena kami harus belajar melakukan pendekatan pada setiap tokohnya. Selain itu, dalam Indonesia Kirana, kami harus membangun cerita dengan merangkum perjalanan mereka selama delapan bulan, menjadi film berdurasi 90 menit. Proses editing ini membutuhkan waktu berpikir yang dalam dan panjang.



Soal film HOMA apa ide awal untuk membuat film ini?

Inspirasi awal muncul saat kami merekam serangkaian prosesi Hari Raya Nyepi di Bali pada 2014. Kami menikmati suasana spiritual itu dan terpikir untuk mengeksplor festival-ritual-selebrasi di tempat-tempat lain. Kemudian kami lanjutkan dengan mendatangi festival musim panas di Jepang, Thaipusam di Batu Caves, Dashain di Nepal, Agni Aarti di Sungai Gangga, Loy Krathong di Thailand, dan berbagai macam festival-ritual lainnya. Proses eksplorasi yang panjang ini kami tutup pada akhir tahun 2017 dengan sebuah perjalanan epik ke dataran tinggi Himalaya untuk menangkap budaya Tibet.

HOMA merupakan sebuah film dokumenter yang menyajikan cerita mengenai bagaimana umat ​manusia berpartisipasi dalam ritual, festival dan tradisi sebagai cara untuk berhubungan dengan Tuhan. HOMA mengangkat tema spiritualitas ini dimulai dari dataran tinggi Himalaya, turun ke lembah sungai Indus dan Sungai Gangga, sampai ke peradaban Timur Jauh. Homa menjelajahi ketidak-terbatasan cara manusia dalam berkomunikasi dengan Tuhan atau Semesta.

Film HOMA dibuat untuk merayakan keberagaman budaya dan tradisi manusia, sekaligus sebagai upaya untuk memahaminya.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by EMBARA Films (@embarafilms) on

Film Homa mengambil adegan di beberapa negara. Berapa lama proses pembuatan film ini?

Proses syuting Film HOMA sudah ​berlangsung selama empat tahun, dimulai sejak Maret 2014

 

Bila ingin menonton Homa full movie, bisa disaksikan di mana?

Jika telah selesai, kami berencana untuk mengikutkannya ke beberapa festival dan kami juga ingin melakukan pemutaran khusus di bioskop-bioskop.



Sejauh ini siapa saja pihak luar yang ikut berperan membantu proses pembuatan film-film EMBARA?

Teh Kotak: Thanks To Nature (untuk film EPIC JAVA) dan Paduan Suara Universitas Padjajaran (Indonesia Kirana)

 

film dokumenter apa yang paling ingin dibuat EMBARA yang sampai saat ini belum terwujud?

Sampai saat ini, kami masih befokus untuk menyelesaikan Film Homa terlebih dahulu sebelum memikirkan tema-tema selanjutnya.

Facebook Comments
Share This Articles