Now Reading:

Langkah Berani Scoot: Terbang ke Belitung dan Pontianak Langsung dari Singapura


Selama bertahun-tahun, narasi pariwisata Indonesia terasa berputar di orbit yang sama: Bali sebagai pusat, dan yang lain sebagai pelengkap. Kampanye berganti, slogan diperbarui, tetapi gravitasi itu nyaris tak berubah. Sementara itu, dunia bergerak dan ironi muncul: justru maskapai asing yang lebih gesit membaca peluang di luar Bali.

Menggunakan pesawat Embraer E190-E2, penerbangan ini akan dimulai pada Mei dan Juni 2026. Mulai 3 Mei 2026, Scoot akan memulai penerbangan ke Belitung dengan frekuensi dua kali seminggu. Sementara mulai 29 Juni 2026, penerbangan ke Pontianak dimulai dengan frekuensi tiga kali seminggu.

Tarif kelas ekonomi sekali jalan dari Belitung mulai dari Rp540.000, dan dari Pontianak mulai dari Rp780.000, sudah termasuk pajak, menuju jaringan luas Scoot melalui Singapura. Pemesanan rute baru dapat dilakukan mulai hari ini melalui situs web, aplikasi mobile, dan secara bertahap melalui saluran lainnya.

Keputusan Scoot membuka rute ke Belitung dan Pontianak bukan sekadar ekspansi jaringan. Ini adalah sinyal keras bahwa “Indonesia di luar Bali” bukan lagi wacana, tapi pasar yang siap digarap. Bali-sentris tak lagi bertaji?

Berkah yang Jadi Ketergantungan

Tidak ada yang menyangkal bahwa Bali adalah aset global. Namun ketergantungan berlebih menciptakan blind spot. Ketika satu destinasi menyerap sebagian besar perhatian (anggaran, infrastruktur, hingga konektivitas) destinasi lain terjebak dalam status “potensial” tanpa pernah benar-benar menjadi prioritas.

Padahal, di saat yang sama, tren global justru bergerak ke arah sebaliknya. Traveler mulai menghindari keramaian, mencari pengalaman yang lebih intim, lebih lokal, dan lebih “tidak dipoles”. Dunia bergerak ke secondary destinations, sementara Indonesia masih sibuk mempertebal spotlight di panggung yang sama.

Foto: Dok. Scoot

Belitung dan Pontianak: Bukan Alternatif, Tapi Jawaban

Belitung menawarkan lanskap granit yang ikonik tanpa kepadatan turis. Pontianak menghadirkan pengalaman geografis unik di Tugu Khatulistiwa, dengan kehidupan kota yang tumbuh di sepanjang Sungai Kapuas. Ini bukan destinasi “cadangan”, tapi sebuah produk yang berbeda.

Masalahnya bukan pada kurangnya daya tarik, tapi kurangnya akses.

Dan di sinilah Scoot masuk. Dengan memanfaatkan ekosistem Singapore Airlines Group dan hub Singapura, mereka melakukan apa yang selama ini menjadi titik lemah pariwisata Indonesia: membuka konektivitas yang nyata, dan bukan sekadar wacana.

Indonesia sering berbicara tentang “10 Bali Baru” dan “Wisata Prioritas” hingga “Wisata Premium”, tapi tanpa jaringan penerbangan yang konsisten dan kompetitif, konsep itu sulit melampaui tahap branding. Sementara itu, maskapai seperti Scoot bekerja dengan pendekatan yang lebih pragmatis: buka rute, bangun arus, lalu biarkan pasar bergerak.

Hasilnya? Destinasi sekunder tidak lagi menunggu untuk “dipromosikan” tapi langsung diintegrasikan ke dalam arus perjalanan regional.

“Penambahan rute baru ke Belitung dan Pontianak tidak hanya memperluas kehadiran Scoot di Indonesia, tetapi juga memperkuat konektivitas jaringan SIA Group melalui Singapura,” ujar Mr. Leslie Thng, Chief Executive Officer Scoot.

Masa Depan Tanpa Satu Pusat

Jika tren ini berlanjut, masa depan pariwisata Indonesia tidak lagi Bali-sentris. Ia akan lebih tersebar, lebih dinamis, dan (ironisnya) lebih ditentukan oleh siapa yang paling cepat membuka jalur, bukan siapa yang paling instagrammable destinasinya.

Scoot mungkin hanya membuka dua rute, tapi implikasinya lebih besar. Ini adalah pengingat bahwa dalam industri perjalanan, yang bergerak lebih cepat bukan selalu yang punya aset, tapi yang berani mengaktifkannya.

Dan saat ini, Indonesia punya banyak aset. Yang masih dipertanyakan adalah: siapa yang benar-benar siap menggerakkannya.

 

POPULAR

Share This Articles
Klook.com