Now Reading:

Review Film “Nation Estate”: Ketika Larissa Sansour Memadatkan Palestina dalam Sebuah Gedung


Salah satu perspektif paling kuat di ICAD 16 datang dari Larissa Sansour, seniman dan filmmaker Palestina yang dikenal melalui praktik yang mempertemukan science fiction, sejarah, memori, identitas, dan politik ruang. Alih-alih menjadikan film sebagai medium dokumentasi semata, Sansour membangun dunia-dunia imajiner untuk melihat kembali realitas Palestina dari jarak yang berbeda. Dalam karyanya, masa lalu, masa kini, dan kemungkinan masa depan hadir secara bersamaan.

Larissa Sansour (Foto: https://kunstkritikk.com)

Pendekatan tersebut terlihat jelas dalam Nation Estate, film yang berangkat dari sebuah gagasan yang terdengar absurd: bagaimana jika seluruh Palestina bisa ditempatkan dalam satu gedung pencakar langit? Sansour membayangkan sebuah negara futuristik dalam bentuk vertikal, dengan setiap lantai merepresentasikan kota-kota Palestina seperti Ramallah, Bethlehem, dan Jerusalem. Geografi yang semestinya terbentang secara horizontal dipadatkan menjadi arsitektur vertikal. Palestina tidak lagi hadir sebagai bentang geografis yang luas, melainkan sebagai sebuah struktur yang bisa dijelajahi dari lantai ke lantai.

Di sinilah Nation Estate menjadi lebih dari sekadar eksperimen visual. Sansour menerjemahkan persoalan geografis dan politik ke dalam bahasa arsitektur yang sederhana, ironis, sekaligus efektif. Dalam realitas, perjalanan antarkota di wilayah Palestina dapat menjadi pengalaman yang kompleks karena pembatasan mobilitas, pos pemeriksaan, dan kontrol teritorial. Dalam dunia yang dibangun Sansour, seluruh kompleksitas itu diringkas menjadi satu gestur sederhana: untuk berpindah kota, cukup naik lift.

Lift dalam Nation Estate dengan demikian bukan sekadar bagian dari desain futuristik gedung. Ia menjadi metafora tentang mobilitas dan batas. Sebuah perjalanan yang dalam realitas dapat dipenuhi hambatan, jarak, dan kontrol, diubah menjadi perjalanan vertikal yang hanya berlangsung beberapa detik. Sansour mengambil sesuatu yang sangat biasa dalam kehidupan kota modern, sebuah lift, lalu memberinya muatan politik yang jauh lebih besar. Arsitektur menjadi bahasa untuk membicarakan siapa yang dapat bergerak, ke mana seseorang dapat pergi, dan bagaimana batas-batas geografis membentuk pengalaman manusia.

Secara visual, Nation Estate mempertemukan estetika sci-fi, arsitektur futuristik, dan kritik sosial-politik dalam sebuah dunia yang tampak begitu rapi dan terkendali. Justru kontras itulah yang membuat film ini bekerja. Gedung pencakar langitnya terlihat modern, efisien, bahkan mewah, tetapi di balik kesempurnaan desain tersebut tersimpan pertanyaan tentang negara, teritorial, identitas, memori, dan hak untuk bergerak. Sansour tidak perlu menghadirkan realitas Palestina secara dokumenter; ia justru menciptakan realitas alternatif yang tampak absurd untuk membuat realitas sebenarnya terasa semakin dekat.

Cara Sansour bekerja menunjukkan bagaimana fiksi dapat menjadi perangkat artistik untuk membicarakan sesuatu yang sangat nyata. Dalam karya-karyanya, kehilangan, trauma yang diwariskan, identitas nasional, ingatan personal, serta hubungan manusia dengan tanah dan sejarah tidak selalu hadir melalui narasi yang linear. Ia membangun atmosfer sinematik dan dunia spekulatif yang memberi ruang bagi penonton untuk mempertanyakan kembali apa yang dianggap sebagai fakta, memori, dan kemungkinan.

Karena itu, kehadiran Nation Estate di ICAD 16 memiliki resonansi yang kuat dengan tema “Being: Becoming”. Jika being berbicara tentang kondisi yang diwarisi dan dialami hari ini, maka becoming membuka pertanyaan tentang apa yang masih mungkin dibayangkan setelah kehilangan, perubahan, dan trauma. Bagi Sansour, masa depan bukan sekadar tempat yang belum terjadi. Ia menjadi ruang untuk merekonstruksi ingatan, membayangkan kembali identitas, dan bahkan mempertanyakan bentuk negara itu sendiri.

Pada akhirnya, Nation Estate memperlihatkan bagaimana seni dapat mengubah pengalaman politik menjadi pengalaman ruang. Sebuah gedung pencakar langit menjadi sebuah negara. Sebuah lift menjadi simbol mobilitas. Dan sebuah film fiksi ilmiah berubah menjadi cara untuk berbicara tentang sejarah yang sangat nyata. Di tangan Sansour, world-building bukan sekadar menciptakan masa depan imajiner, tetapi juga sebuah cara untuk bertanya: jika dunia yang kita warisi terasa penuh batas, seperti apa dunia yang masih mungkin kita bayangkan?

Share This Articles
Klook.com