Now Reading:

Being: Becoming, Ketika ICAD 16 Mempertanyakan Siapa Kita dan Akan Menjadi Apa


Ada sesuatu yang menarik ketika sebuah pameran seni kontemporer tidak buru-buru menawarkan jawaban. Ia justru mengajak kita berhenti sejenak, mengamati apa yang sedang terjadi, lalu mempertanyakan kembali: sebenarnya, kita sedang menjadi siapa?

Pertanyaan semacam itu terasa kuat di Indonesian Contemporary Art & Design (ICAD) 16, yang kembali digelar di grandkemang Hotel Jakarta, Jakarta Selatan, pada 8 Oktober hingga 8 November 2026. Mengusung tema “Being: Becoming”, edisi ke-16 ini melihat seni dan desain bukan sekadar sebagai objek untuk dipandang, melainkan sebagai medium untuk membaca kondisi manusia hari ini, tentang bagaimana kita berada di suatu titik, sekaligus bagaimana kita terus bergerak melampauinya.

Konferensi pers ICAD 16 (foto: Yudasmoro)

Being berbicara tentang keadaan kita sekarang: identitas, tubuh, ingatan, sejarah, struktur kekuasaan, bahkan pengalaman personal yang membentuk cara kita melihat dunia. Sementara becoming membuka kemungkinan yang lebih cair, tentang perubahan, negosiasi, dan keberanian membayangkan bentuk kehidupan yang belum selesai. Di antara keduanya, ICAD 16 menempatkan lebih dari 40 seniman, desainer, dan praktisi kreatif dari dalam maupun luar negeri untuk menghadirkan karya yang tidak selalu nyaman, tetapi justru karena itu relevan.

Dalam seni kontemporer, karya tidak pernah berdiri sepenuhnya terpisah dari konteks. Ia membawa jejak politik, budaya, teknologi, memori, dan pengalaman personal pembuatnya. ICAD 16 membaca kompleksitas tersebut melalui perspektif lintas disiplin. Pertanyaan tentang kekuasaan bertemu dengan sejarah, ingatan budaya bersinggungan dengan teknologi, sementara pengalaman personal dapat berubah menjadi refleksi yang lebih luas tentang masyarakat.

Foto: Yudasmoro

“Proses menjadi, dengan demikian, adalah tentang bernegosiasi dengan kekuatan yang membentuk kita, membayangkan kemungkinan lain, serta mengambil, atau mengambil kembali, meski hanya sekejap, kebebasan yang dibutuhkan untuk sekadar ‘ada’, sambil membawa fragmen yang kita tolak untuk hilang,” ujar Putra Hidayatullah, Kurator ICAD 16.

Konteks global tersebut terasa dari cakupan peserta ICAD 16 tahun ini. Karya-karya yang hadir datang dari 12 negara, termasuk Indonesia, Thailand, Brunei Darussalam, Jepang, Korea Selatan, Palestina, Turki, Prancis, Belanda, Uganda, dan Amerika Serikat.

Keragaman geografis ini membuat “Being: Becoming” tidak berhenti melihat persoalan sebagai personal, tetapi berkembang menjadi percakapan lintas budaya tentang bagaimana manusia menghadapi sejarah dan realitasnya masing-masing.

Salah satu momen penting hadir melalui Special Appearance yang memberikan penghormatan kepada Made Wianta, salah satu nama penting dalam perkembangan seni rupa kontemporer Indonesia. Dikenal melalui eksplorasi bahasa visual yang luas dan terus berubah, praktik Wianta memperlihatkan bagaimana batas antara bentuk, material, simbol, dan gagasan dapat terus dinegosiasikan. Kehadirannya menjadi semacam pengingat bahwa proses becoming dalam seni tidak pernah benar-benar selesai.

Pada kategori In Focus, Putu Sutawijaya membawa praktik figuratifnya yang selama ini menjadi bagian penting dari lanskap seni rupa Indonesia. Sementara itu, seniman lintas media Ahmet Öğüt menghadirkan perspektif yang lebih politis melalui karya yang berbicara tentang solidaritas terhadap Palestina. Dua praktik tersebut memperlihatkan bagaimana tubuh dan pengalaman manusia dapat menjadi bahasa untuk membaca persoalan yang jauh lebih besar daripada dirinya sendiri.

Di kategori Featured, persoalan ingatan muncul dengan intensitas yang berbeda. Jamaluddin Phonna, seniman asal Aceh yang juga bekerja sebagai filmmaker dokumenter dan peneliti, menelusuri bagaimana masyarakat mengingat dan memaknai kembali peristiwa tsunami. Ingatan di sini bukan sekadar rekaman masa lalu, melainkan sesuatu yang terus hidup dan berubah seiring waktu.

Foto: Yudasmoro

Sementara itu, Larissa Sansour menggunakan pendekatan yang hampir berlawanan: fiksi ilmiah. Seniman asal Palestina tersebut memanfaatkan speculative storytelling untuk membicarakan sejarah, identitas, dan tanah kelahirannya. Ketika realitas terasa terlalu kompleks untuk dijelaskan secara linear, fiksi justru menjadi alat untuk membuka kemungkinan lain, sebuah praktik yang sangat dekat dengan gagasan becoming.

Energi eksperimentasi juga terasa melalui Open Call, yang tahun ini mempertemukan seniman terpilih dari lebih dari 100 pendaftar. Clarissa Tiffany, perupa sekaligus kurator asal Indonesia, menelusuri pengalaman, memori, dan sejarah perempuan Tionghoa-Indonesia. Di sisi lain, Yang Amat Mulia Pengiran Anak Hamlatul Arsy Mulia Bolkiah dari Brunei Darussalam hadir sebagai kurator sekaligus peneliti independen dengan eksplorasi terhadap berbagai kepercayaan dan kebudayaan Melayu.

Pertemuan berbagai perspektif inilah yang membuat ICAD menarik untuk dibaca sebagai lebih dari sekadar pameran. Sejak awal, festival ini memang dibangun sebagai ruang pertemuan antara seni, desain, dan disiplin kreatif lainnya. “ICAD sejak awal menjadi ruang yang mempertemukan seni, desain, dan berbagai disiplin secara inklusif,” ujar Edwin Nazir, Festival Director ICAD. “Kami berharap ICAD dapat menjadi ruang yang dekat dan terbuka bagi publik untuk menikmati karya, bertemu dengan gagasan yang berbeda, dan melihat berbagai kemungkinan yang muncul dari pertemuan lintas disiplin.”

Di luar ruang pamer, pengalaman ICAD 16 diperluas melalui rangkaian diskusi, workshop, kolaborasi bersama seniman dan pelaku kreatif, asosiasi, serta pusat kebudayaan asing. Program kawasan Kemang 12730 juga kembali menjadi bagian dari ekosistem festival, membawa percakapan seni dan desain keluar dari ruang galeri dan masuk lebih dekat ke kehidupan kawasan.

Foto: Yudasmoro

Ada pula ICAD Student Tour, program edukasi yang kembali mempertemukan pelajar dengan seni secara langsung. Tahun ini, program tersebut bekerja sama dengan 22 sekolah dari tingkat TK hingga universitas. Para peserta tidak hanya mengunjungi pameran, tetapi juga memiliki kesempatan bertemu dengan kurator dan seniman, sebuah pengalaman yang penting ketika pendidikan seni tidak berhenti pada teori, melainkan dimulai dari perjumpaan langsung dengan karya.

Pada akhirnya, “Being: Becoming” mungkin bukan tema yang harus segera dipahami. Ia lebih menarik jika dialami. Berjalan dari satu karya ke karya lain, kita menemukan bahwa menjadi manusia berarti terus bernegosiasi dengan apa yang diwariskan, apa yang sedang berlangsung, dan apa yang masih mungkin terjadi.

Di situlah ICAD 16 menemukan relevansinya. Seni dan desain tidak menawarkan dunia yang sudah selesai. Sebaliknya, keduanya membuka ruang untuk membayangkan dunia yang masih bisa berubah, termasuk diri kita sendiri.

POPULAR

Share This Articles
Klook.com