Now Reading:

Tak Hanya Bali, IHG Bidik Destinasi Baru untuk Kembangkan Industri Perhotelan Indonesia


Indonesia memiliki daya tarik wisata yang terus berkembang. Selain Bali yang telah lama menjadi magnet wisatawan dunia, sejumlah destinasi lain seperti Yogyakarta, Labuan Bajo, Lombok, hingga Medan mulai mendapatkan perhatian lebih besar. Kekayaan alam, budaya, serta pengalaman perjalanan yang beragam membuat Indonesia memiliki peluang besar untuk memperluas peta pariwisatanya.

Potensi tersebut turut menarik perhatian industri perhotelan global. Salah satunya IHG Hotels & Resorts (IHG), yang terus memperkuat kehadirannya di Indonesia melalui pengembangan jaringan hotel di berbagai destinasi. Perusahaan ini melihat pertumbuhan perjalanan wisata, baik domestik maupun internasional, sebagai peluang untuk menghadirkan lebih banyak pilihan akomodasi di Tanah Air.

(Ki-Ka) Vivek Bhalla, Managing Director, Southeast Asia & Korea, IHG dan Anil Pathak, Director of Operations, Indonesia. (Foto: Supplied)

Data Kementerian Pariwisata menunjukkan bahwa Indonesia mencatat lebih dari 10,5 juta kunjungan wisatawan mancanegara sepanjang Januari hingga Agustus 2026. Pada periode yang sama, perjalanan wisatawan nusantara juga mencapai sekitar 842 juta perjalanan. Angka tersebut memperlihatkan bahwa aktivitas perjalanan di Indonesia terus bergerak positif, sekaligus menjadi fondasi bagi perkembangan industri perhotelan.

Kondisi pasar hotel pun menunjukkan tren yang menggembirakan. Berdasarkan data CoStar per September 2026, tarif kamar rata-rata mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya, begitu pula pendapatan hotel per kamar yang tersedia. 

Bagi IHG, pertumbuhan tersebut menjadi momentum untuk memperluas jaringan sekaligus memperkenalkan konsep perhotelan yang sesuai dengan karakter setiap destinasi dan kebutuhan wisatawan.

Destinasi Baru di Luar Bali

Selama ini, Bali masih menjadi salah satu destinasi unggulan Indonesia di mata wisatawan internasional. Namun, potensi pariwisata Nusantara sesungguhnya jauh lebih luas. Seiring membaiknya infrastruktur dan konektivitas transportasi, semakin banyak wilayah yang memiliki peluang untuk berkembang sebagai tujuan perjalanan baru.

Hotel Indigo Bintan Lagoi Beach_Lobby Entrance (Foto: Supplied)

IHG melihat peluang tersebut dengan memperluas jaringan hotel ke berbagai kota dan kawasan wisata. Saat ini, perusahaan telah mengoperasikan hotel di sejumlah destinasi, antara lain Jakarta, Bali, Bandung, Surabaya, Semarang, Batam, Bintan, Lampung, Labuan Bajo, Cikarang, dan Kalimantan Selatan.

Ekspansi berikutnya direncanakan menjangkau Medan, Yogyakarta, Puncak, dan Lombok. Masing-masing destinasi memiliki karakter yang berbeda. Yogyakarta menawarkan kekayaan budaya dan sejarah, Lombok memiliki daya tarik wisata alam dan bahari, sementara Puncak dikenal dengan suasana pegunungan yang menjadi alternatif liburan dari hiruk-pikuk perkotaan.

Secara keseluruhan, IHG kini memiliki 35 hotel yang telah beroperasi di Indonesia dan 13 hotel tambahan dalam tahap pengembangan. Jika seluruh proyek tersebut terealisasi, jaringan perusahaan akan mendekati 50 hotel dengan hampir 10.000 kamar.

Vivek Bhalla, Managing Director Southeast Asia & Korea IHG, menilai Indonesia memiliki modal kuat untuk mengambil bagian lebih besar dalam pertumbuhan pariwisata Asia Pasifik. Kekayaan alam dan budaya, besarnya pasar perjalanan domestik, serta konektivitas yang terus membaik menjadi sejumlah faktor pendukung.

Menurutnya, peluang pertumbuhan tidak hanya berada di Bali, tetapi juga di berbagai destinasi yang mulai menarik perhatian wisatawan, seperti Medan, Yogyakarta, Lombok, Manado, dan Labuan Bajo. Kawasan lain seperti Puncak, Bogor, Lampung, dan Belitung juga dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan.

Pendekatan ekspansi IHG dilakukan dengan membangun portofolio hotel dari berbagai brand yang saling melengkapi di destinasi utama. Strategi ini tidak hanya memperluas pilihan akomodasi bagi wisatawan, tetapi juga membuka peluang kemitraan jangka panjang dengan pemilik hotel dan pelaku industri pariwisata lokal.

Menyesuaikan Gaya Hidup Wisatawan

Perkembangan industri perhotelan tidak hanya ditentukan oleh lokasi dan fasilitas. Preferensi wisatawan yang semakin beragam turut mendorong hotel untuk menawarkan pengalaman yang lebih personal dan memiliki karakter tersendiri.

Hotel kini bukan sekadar tempat untuk beristirahat setelah seharian menjelajahi destinasi. Bagi sebagian wisatawan, pengalaman menginap justru menjadi bagian penting dari perjalanan, mulai dari desain interior, pilihan kuliner, suasana lingkungan, hingga aktivitas yang ditawarkan.

InterContinental Jakarta Pondok Indah – Classic Room King Bed (Foto: Supplied)

Perubahan tersebut juga terlihat dari berkembangnya pasar generasi Z. Kelompok wisatawan muda ini memiliki karakter dan ekspektasi yang berbeda dibandingkan generasi sebelumnya. Mereka cenderung mencari pengalaman yang lebih autentik, desain yang menarik, serta hotel yang memiliki keterkaitan dengan gaya hidup dan budaya lokal.

IHG menangkap peluang tersebut melalui pengembangan berbagai konsep hotel yang relevan dengan kebutuhan generasi baru. Salah satunya adalah Hotel Indigo, brand yang mengedepankan pendekatan neighbourhood storytelling dengan mengambil inspirasi dari karakter lingkungan dan komunitas di sekitar hotel.

Konsep ini membuat setiap properti memiliki identitas yang berbeda, sesuai dengan budaya, sejarah, dan kehidupan lokal destinasi. Pendekatan tersebut juga memberikan pengalaman menginap yang lebih dekat dengan karakter tempat yang dikunjungi, sesuatu yang semakin dicari wisatawan muda.

Di Indonesia, Hotel Indigo telah hadir di Bandung, Bintan, dan Bali. Sejumlah proyek baru juga tengah disiapkan, termasuk di Yogyakarta dan Ubud.

Sementara itu, bagi wisatawan yang mengutamakan kepraktisan dan kenyamanan, Holiday Inn Express menawarkan konsep menginap modern dengan desain fungsional. Holiday Inn Express Bandung Braga yang dibuka pada 2026 menjadi hotel pertama di kawasan East Asia & Pacific yang menerapkan desain generasi kelima brand tersebut. Konsepnya memadukan kamar modern, desain kontemporer, serta ruang yang mendukung interaksi sosial para tamu.

Segmen luxury dan lifestyle juga menjadi bagian penting dari strategi pengembangan IHG di Indonesia. Sejumlah brand seperti Six Senses, Regent, InterContinental, Kimpton, dan Vignette Collection disiapkan untuk menjangkau wisatawan yang menginginkan pengalaman menginap lebih eksklusif.

Salah satu proyek yang dinantikan adalah Kimpton Suntaya Bali Ubud, yang dijadwalkan dibuka pada akhir 2026. Hotel ini akan menghadirkan pendekatan wellness dengan pengalaman yang berfokus pada pemulihan, keseimbangan tubuh, serta aktivitas gerak yang dipandu.

Beragam konsep tersebut memperlihatkan bagaimana industri perhotelan mulai menyesuaikan diri dengan perubahan kebutuhan wisatawan. Mulai dari generasi muda yang mencari pengalaman autentik hingga wisatawan luxury yang mengutamakan privasi dan wellness, setiap segmen memiliki cara tersendiri dalam menikmati perjalanan.

Pertumbuhan Hotel dan Keterlibatan Masyarakat Lokal

Di balik pembangunan hotel dan perluasan jaringan akomodasi, pertumbuhan industri perhotelan juga memiliki keterkaitan erat dengan kehidupan masyarakat di sekitarnya. Kehadiran hotel dapat membuka lapangan pekerjaan, menciptakan peluang usaha, sekaligus memperkenalkan produk lokal kepada wisatawan.

Di Indonesia, IHG mempekerjakan hampir 3.700 orang, dengan mayoritas merupakan tenaga kerja lokal. Perusahaan juga menjalin kerja sama dengan universitas dan lembaga pendidikan di Jakarta, Bali, serta Bandung untuk mendukung pengembangan sumber daya manusia di sektor perhotelan.

Keterlibatan masyarakat lokal turut terlihat melalui kemitraan dengan petani, nelayan, dan perajin. Regent Bali Canggu, misalnya, mengembangkan konsep nature-to-table melalui restoran SAZÓN dengan melibatkan petani lokal. Sementara Holiday Inn Cikarang Jababeka memperkenalkan teh artisan hasil produksi petani di Jawa Barat kepada para tamunya.

Inisiatif semacam ini memberikan ruang bagi produk lokal untuk mendapatkan apresiasi lebih luas, sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat di sekitar hotel.

Dalam bidang sosial, IHG juga bekerja sama dengan berbagai mitra komunitas di Indonesia. Salah satunya adalah Saab Shares, organisasi nirlaba yang mendukung pemberdayaan para ibu dari kelompok masyarakat berpenghasilan rendah agar dapat meningkatkan kesejahteraan keluarga. Berbagai program komunitas yang dijalankan IHG sepanjang 2025 tercatat memberikan dampak positif bagi sekitar 14.000 orang.

Membuka Peluang Baru bagi Pariwisata Nusantara

Sebagai negara kepulauan dengan lebih dari 17.000 pulau, Indonesia memiliki potensi besar untuk mengembangkan beragam jenis perjalanan. Setiap wilayah menawarkan karakter dan pengalaman tersendiri, mulai dari wisata alam, petualangan, budaya, hingga perjalanan yang berorientasi pada kebugaran dan relaksasi.

Tantangan berikutnya adalah memastikan potensi tersebut dapat diakses dengan lebih baik dan didukung fasilitas pariwisata yang memadai. Peningkatan konektivitas, pengembangan infrastruktur, serta keterlibatan masyarakat lokal menjadi faktor penting agar pertumbuhan pariwisata tidak hanya terpusat di destinasi populer.

Bagi IHG, Indonesia merupakan pasar dengan peluang pertumbuhan yang masih terbuka lebar. Melalui pengembangan jaringan hotel dan beragam brand, perusahaan ingin mengambil bagian dalam perkembangan destinasi wisata di berbagai wilayah Nusantara.

Vivek Bhalla melihat peluang tersebut bukan semata-mata sebagai kesempatan untuk membuka lebih banyak hotel. Bersama para pemilik hotel dan mitra lokal, IHG ingin turut membangun infrastruktur perhotelan yang dapat mendukung perkembangan pariwisata Indonesia dalam jangka panjang.

Dengan semakin beragamnya pilihan akomodasi dan pengalaman menginap, wisatawan diharapkan memiliki lebih banyak alasan untuk menjelajahi Indonesia. Bukan hanya kembali ke destinasi yang sudah populer, tetapi juga menemukan sisi lain Nusantara yang selama ini belum banyak tersentuh.

POPULAR

Share This Articles
Klook.com