Now Reading:

Etta The Place, Cara Baru Menikmati Kehidupan Pesisir Berawa


Di Berawa, Bali, sebuah tempat baru mencoba menawarkan pengalaman yang melampaui konsep menginap konvensional. Bernama Etta The Place, properti yang dibuka pada 6 Oktober ini memadukan restoran, bar, ruang hiburan, dan kamar-kamar bergaya eklektik dalam satu bangunan yang dirancang sebagai titik temu bagi komunitas lokal maupun pelancong. Berlokasi di sebuah jalan tenang yang mengarah ke pantai, Etta menghadirkan suasana yang lebih menyerupai tempat berkumpul di lingkungan perkotaan daripada hotel yang memisahkan tamunya dari kehidupan sekitar.

Gibran Baydoun (Foto: Supplied)

Gagasan tersebut berangkat dari pemikiran Gibran Baydoun, pendiri BYGB Studio dan That’s Proper Hospitality Group, yang sebelumnya mengembangkan sejumlah konsep kuliner dan perhotelan, termasuk Lucali BYGB, Corduroy Palace, dan Proper Slice BYGB. Bagi Baydoun, sebuah tempat seharusnya dibangun untuk orang-orang yang hidup di sekitarnya, sebelum menjadi destinasi bagi para pelancong. Karena itu, Etta tidak menempatkan kamar hotel sebagai pusat pengalaman. Justru restoran, gerai kopi yang menghadap jalan, bar, dan ruang-ruang sosialnya menjadi bagian yang membentuk karakter tempat ini.

Nama Etta sendiri diambil dari Ruth Etta Collins, nenek Baydoun, yang meyakini bahwa cara seseorang memberi makan orang lain merupakan salah satu bentuk kasih sayang. Ia juga percaya bahwa perhatian terhadap detail memiliki makna tersendiri. Nilai-nilai tersebut diterjemahkan ke dalam pendekatan keramahtamahan yang lebih personal, ketika pengalaman tidak hanya ditentukan oleh kemewahan fasilitas, tetapi juga oleh bagaimana seseorang disambut, dilayani, dan dibuat merasa menjadi bagian dari sebuah komunitas.

Ketika Hotel Menjadi Ruang Berkumpul

Etta dirancang agar kehidupan di dalamnya tidak berhenti pada tamu yang menginap. Seorang warga yang tinggal beberapa menit dari lokasi bisa datang untuk menikmati kopi, sementara pelancong yang baru tiba dapat menghabiskan sore di bar atau bertemu orang lain di meja makan yang sama. Kedekatan dengan kehidupan sehari-hari inilah yang menjadi pembeda utama Etta.

Atmosfernya mengambil inspirasi dari jalanan New York dan Paris, dua kota yang dikenal memiliki budaya berkumpul serta ruang sosial yang memungkinkan orang-orang dari latar belakang berbeda saling berinteraksi. Di Berawa, semangat tersebut diterjemahkan melalui suasana yang lebih santai dan dekat dengan kehidupan pesisir. Pengunjung bisa datang setelah menghabiskan waktu di pantai, tertarik oleh aroma makanan atau musik yang terdengar dari dalam, lalu memutuskan untuk tinggal lebih lama.

Foto: Supplied

Alih-alih mengandalkan kemewahan yang mudah dikenali, Etta menempatkan perhatian terhadap manusia sebagai bagian penting dari pengalamannya. Program kegiatan diselenggarakan sepanjang minggu, mulai dari klub pengamatan burung dan kelas khusus soju hingga permainan mahjong sambil menikmati minuman, sesi musik berbasis piringan hitam, dan layanan martini yang diantarkan ke kamar menjelang malam. Ragam aktivitas ini membuat Etta terasa hidup bahkan bagi mereka yang tidak menginap.

Tidak ada kesan eksklusivitas yang sengaja dibangun melalui pembatasan akses atau suasana yang terlalu formal. Etta justru ingin menciptakan tempat yang membuat orang merasa diterima tanpa harus menjadi bagian dari kelompok tertentu. Dalam konteks pariwisata Bali yang terus berkembang, pendekatan ini menawarkan perspektif menarik tentang bagaimana sebuah properti dapat menjadi bagian dari lingkungan, bukan sekadar fasilitas yang berdiri sendiri.

Desain yang Memadukan Nostalgia dan Karakter Bali

Karakter Etta juga tercermin melalui desain interior yang dikembangkan oleh Baydoun. Alih-alih memilih estetika tropis yang seragam, ia meramu inspirasi sinema era 1990-an dengan kenangan terhadap rumah sang nenek di Detroit. Rumah tersebut, yang dibeli dari salah satu anggota grup musik The Four Tops, memiliki sofa kulit hijau celadon, lantai bata, dan tirai krom yang kemudian menjadi referensi bagi suasana interior Etta.

Hasilnya adalah ruang dengan karakter postmodern yang terasa ekspresif, sedikit jenaka, tetapi tetap dekat dengan atmosfer pantai. Ubin hijau celadon di lantai dasar berpadu dengan warna burgundi pekat di bagian atas. Blok kaca, krom, gabus daur ulang, kayu dengan pola serat dekoratif, dan bata Bali menghadirkan tekstur yang beragam tanpa kehilangan kesatuan visual.

Foto: Supplied

Furnitur khusus dari STVMP, Mahardika Design, Foolniture, dan Bothwell ditempatkan berdampingan dengan kain vintage Indonesia. Sementara itu, tekstil dan seragam dari Alami Studio serta pelapis furnitur tenun tangan dari Nusa Penida memperkenalkan sentuhan lokal ke dalam desain yang lebih kosmopolitan. Unsur keberlanjutan juga hadir melalui karya Sungai Design, yang mengolah plastik hasil pembersihan sungai menjadi material lantai bar dan ubin perapian.

Karya seni dari sisa potongan kain oleh Kde Bahari melengkapi keseluruhan interior. Perpaduan material, warna, dan objek tersebut membentuk suasana yang sekaligus mengingatkan pada Malibu, Montauk, dan Medewi. Referensi tersebut tidak hadir sebagai tiruan langsung, melainkan sebagai cara untuk merangkai beragam karakter pesisir ke dalam satu pengalaman ruang yang terasa personal.

Kuliner sebagai Jantung Pengalaman

Sebelum seluruh kamar hotel mulai beroperasi, Etta lebih dahulu memperkenalkan ekosistem makanan dan minumannya. Langkah ini sejalan dengan konsep yang menempatkan ruang sosial sebagai pusat pengalaman. Di bawah arahan Executive Chef Ashlee Malligan, yang memiliki pengalaman di Bacchanalia dan Restaurant Nouri di Singapura, setiap tempat makan memiliki identitas dan suasana tersendiri.

Win Win menjadi pusat aktivitas kuliner Etta. Pada malam hari, restoran ini mengusung suasana New York era 1990-an dengan pencahayaan lilin, ayam panggang rotisserie, sajian boga bahari mentah, pilihan martini, serta koleksi anggur yang disusun berdasarkan rentang harga agar pengunjung dapat memilih sendiri. Ketika siang tiba, suasananya berubah menjadi lebih kasual dengan menu pastrami, corned beef, roti lapis Italia, bagel, dan sup. Nama Win Win sendiri merujuk pada keyakinan bahwa berada di tempat yang tepat bersama orang yang tepat merupakan bentuk kemenangan tersendiri.

Untuk pengalaman yang lebih santai, Legacy Fine Roasters & Creamery menghadirkan gerai kopi berlapis blok kaca yang langsung menghadap jalan. Kopi bergaya Amerika dengan cita rasa kuat dan cold brew dalam kaleng menjadi sajian utamanya, ditemani es krim soft serve dengan taburan warna-warni. Sesekali, area jendela gerai juga berubah menjadi panggung kecil bagi para DJ, memperkuat hubungan antara ruang usaha dan kehidupan jalanan di sekitarnya.

Di bagian atap, Chez Kiki membawa suasana kolam renang pesisir dengan pendekatan yang lebih ceria. Ubin oranye, detail bermotif papan catur, dan payung berumbai membingkai kolam renang yang menghadap kawasan Pantai Berawa. Menu minumannya mencakup sajian beku berbahan agave, rosé dalam botol magnum, Jell-O shots beralkohol, dan koktail spritz, sementara tostada menjadi salah satu pilihan untuk menemani waktu bersantai. Kamera sekali pakai melengkapi atmosfer yang mengingatkan pada kolam renang umum Eropa dan gaya liburan Palm Springs.

Bagi mereka yang mencari suasana malam, Palace Disco menawarkan pengalaman berdansa dengan pendekatan yang tidak terlalu formal. Terinspirasi dari Corduroy Palace di Singapura, tempat ini mengandalkan piringan hitam, kaset, dan koktail bercita rasa kuat. Musik dan suasananya dirancang untuk mendorong interaksi spontan, tanpa harus dibebani kesan klub malam yang terlalu eksklusif.

Sementara itu, Blondies dijadwalkan menyusul pada akhir 2026. Dengan kapasitas hanya 15 kursi, restoran berbentuk konter dapur ini akan menghadirkan menu degustasi karya Malligan yang bertumpu pada teknik memasak, intuisi, bahan-bahan musiman dalam skala mikro, serta fermentasi buatan sendiri. Detail kaca patri menjadi bagian dari suasana ruang, sedangkan kaset khusus yang dibawa pulang oleh tamu dirancang sebagai kenang-kenangan dari pengalaman bersantap tersebut.

Pengalaman Menginap yang Lebih Personal

Kamar-kamar Etta juga dirancang untuk meneruskan filosofi yang sama. Sebanyak 15 kamar dijadwalkan mulai beroperasi pada akhir 2026, dengan pendekatan yang mengutamakan kenyamanan, keintiman, dan interaksi manusia. Setiap kamar akan diberi nama berdasarkan sosok ibu yang dikenal oleh tim Etta, sebuah pilihan yang memperkuat nuansa personal di balik konsepnya.

Alih-alih menjadikan teknologi sebagai pusat perhatian, interior kamar mengutamakan elemen yang mendorong tamu untuk menikmati waktu secara lebih santai. Bangku makan berlapis korduroi yang dibuat menyatu dengan furnitur menghadirkan sentuhan nostalgia, sementara televisi hanya disediakan untuk sesi menonton film berdasarkan permintaan. Bar pribadi, minibar khusus tanpa biaya tambahan, radio bergaya vintage, dan koleksi buku pilihan melengkapi fasilitasnya.

Detail kecil turut membentuk pengalaman menginap. Tamu dapat memilih bantal dan air minum sesuai preferensi, menemukan dispenser parfum di koridor, serta menikmati masker wajah sebagai bagian dari fasilitas perawatan diri. Menjelang malam, layanan turndown pukul 18.00 menghadirkan troli martini berwarna perak langsung ke kamar. Alih-alih sekadar menyiapkan ruang untuk tidur, ritual ini menambahkan pengalaman yang lebih personal pada penghujung hari.

Keberlanjutan yang Berangkat dari Lingkungan

Di luar desain dan layanan, Etta juga mengintegrasikan tanggung jawab sosial dan lingkungan ke dalam operasionalnya. Sebesar satu persen dari pendapatan setiap kuartal dialokasikan untuk berbagai inisiatif lokal, termasuk Sungai Watch, sebuah panti asuhan di Dalung, dan organisasi lingkungan lainnya.

Plastik yang dikumpulkan dari aliran sungai di Bali diolah kembali menjadi ubin khusus, sementara seragam staf dijahit oleh para ibu lokal di Indonesia. Pendekatan ini menghubungkan kebutuhan operasional properti dengan keterlibatan pelaku lokal, sekaligus memberikan fungsi baru bagi material yang sebelumnya menjadi limbah.

Perhatian terhadap kesejahteraan juga mencakup para staf. Etta menyediakan bonus sebesar Rp500.000 setiap kuartal untuk mendukung kegiatan sosial atau kebutuhan komunitas yang dipilih oleh masing-masing anggota tim. Selain itu, kebijakan Just Because Leave memberikan keleluasaan cuti tanpa batas untuk peristiwa penting dalam kehidupan pribadi mereka.

 

POPULAR

Share This Articles
Klook.com