Now Reading:

5 Hal yang Perlu Traveler Tahu tentang Komitmen Sustainability Artotel Group

 


Bagi traveler, memilih hotel kini tidak selalu berhenti pada lokasi, desain, atau fasilitas. Cara sebuah hotel memperlakukan lingkungan dan komunitas di sekitarnya juga semakin menjadi bagian dari pengalaman perjalanan. Hal ini pula yang tengah diperkuat Artotel Group melalui berbagai inisiatif keberlanjutan, termasuk restorasi alam.

Dalam Sustainability Talk bertajuk “Building Resilience Through Nature: Why Investing in Nature Matters for Business Resilience,” yang digelar bersama The Bimasena dan Bumiterra pada 23 September 2026 di Jakarta, Artotel Group menyoroti hubungan antara bisnis hospitality, keberlanjutan destinasi, dan kesehatan alam. Lantas, apa saja yang perlu diketahui traveler?

1. Sustainability bukan hanya soal aktivitas di dalam hotel

Bagi Artotel Group, keberlanjutan tidak cukup dilakukan dengan mengurangi dampak dari operasional hotel. Industri hospitality pada dasarnya sangat bergantung pada kondisi alam dan sumber daya di destinasi tempat hotel beroperasi.

Karena itu, pendekatan yang dikembangkan mulai melihat sustainability dalam konteks yang lebih luas—bagaimana bisnis hotel dapat ikut menjaga lingkungan sekaligus mendukung keberlanjutan destinasi dan komunitas di sekitarnya.

2. Artotel Group sudah memperkuat program ESG sejak 2022

Komitmen tersebut diperkuat melalui The Art of Goodness, yang mulai dikembangkan Artotel Group sejak 2022 sebagai bagian dari implementasi ESG perusahaan.

Pendekatannya diarahkan pada aksi nyata, target yang terukur, serta dampak yang dapat dipantau. Dengan begitu, sustainability tidak berhenti sebagai pesan komunikasi, tetapi diterjemahkan menjadi berbagai program yang dapat memberikan dampak di lingkungan operasional maupun destinasi yang lebih luas.

3. Restorasi alam menjadi bagian dari agenda sustainability

Salah satu langkah yang kini mendapat perhatian adalah restorasi alam. Artotel Group melihat pemulihan ekosistem sebagai bagian dari investasi jangka panjang untuk menjaga kesehatan destinasi.

Founder & CEO Artotel Group Erastus Radjimin menegaskan bahwa restorasi bukan sekadar menanam pohon. Yang lebih penting adalah memulihkan ekosistem sehingga dapat terus memberikan manfaat bagi generasi mendatang.

Bagi traveler, pendekatan ini menarik karena keberlanjutan destinasi pada akhirnya ikut menentukan kualitas pengalaman perjalanan. Alam yang terjaga berarti destinasi memiliki peluang lebih besar untuk tetap menarik dan berfungsi dalam jangka panjang.

Founder & CEO Artotel Group Erastus Radjimin  (Foto: Supplied)

4. Program restorasi dilakukan di Kalimantan Barat

Artotel Group saat ini bekerja sama dengan Bumiterra, perusahaan restorasi alam bersertifikasi B Corp yang melibatkan komunitas lokal, untuk merestorasi satu hektare lahan di Desa Rumbih, Kalimantan Barat.

Program tersebut tidak hanya berfokus pada penanaman pohon. Perawatan lahan dan pemulihan keanekaragaman hayati ekosistem hutan hujan juga menjadi bagian dari inisiatif tersebut.

Artinya, konsep restorasi yang dijalankan mencoba melihat hutan sebagai sebuah ekosistem yang saling terhubung, bukan sekadar kumpulan pohon yang perlu ditanam kembali.

5. Masa depan hospitality ikut bergantung pada kesehatan destinasi

Inilah gagasan yang menjadi benang merah komitmen Artotel Group: hotel dan destinasi tidak bisa dipisahkan. Bisnis hospitality membutuhkan destinasi yang sehat untuk terus berkembang, sementara destinasi membutuhkan pelaku industri yang ikut menjaga sumber daya alam dan komunitasnya.

“Investasi pada alam merupakan bagian dari investasi jangka panjang untuk menjaga keberlanjutan destinasi sekaligus membangun ketahanan bisnis hospitality,” ujar Erastus.

Bagi traveler, perspektif ini memberikan cara pandang baru ketika memilih akomodasi. Sustainability bukan hanya tentang apa yang dilakukan hotel di dalam propertinya, tetapi juga tentang sejauh mana keberadaannya ikut memberi kontribusi terhadap tempat yang menjadi tujuan perjalanan.

POPULAR

Share This Articles
Klook.com