Di sisi timur Pulau Belitung, Tanjung Kelayang Reserve hadir sebagai contoh nyata bagaimana pariwisata bisa dijalankan secara berkelanjutan. Kawasan ini menggabungkan keindahan alam tropis dengan upaya konservasi yang serius, menghadirkan destinasi yang tidak hanya menawarkan pengalaman liburan, tetapi juga mengedukasi dan menginspirasi tentang pentingnya menjaga lingkungan. Terhampar di lahan seluas 350 hektar, kawasan ini bukan sekadar tempat pelarian mewah. Ia adalah janji akan masa depan yang lebih bijak, di mana keindahan alam tak sekadar dipajang, tapi juga dirawat dengan cinta dan tanggung jawab. Sebagian besar wilayahnya tetap tak tersentuh tangan manusia, yang artinya ini adalah rumah bagi trenggiling Sunda yang pemalu, tarsius Billiton yang langka, dan pohon Pelepak yang tengah berjuang melawan kepunahan. Sheraton Belitung (Foto: Dok. Tanjung Kelayang Reserve) Tanjung Kelayang Reserve berdiri di atas warisan sejarah yang tak ternilai. Di bawah lautannya yang tenang, kisah masa lalu bersemayam dalam bentuk bangkai kapal abad ke-9, peninggalan Jalur Sutra Maritim. Keramik dan emas dari Dinasti Tang yang ditemukan di sana menjadi pengingat bahwa tempat ini, sejak lama, telah menjadi persimpangan budaya dan perdagangan global. Jiwa Baru Tanjung Kelayang Kini, Tanjung Kelayang memilih arah baru, menjadi model pariwisata regeneratif, tempat di mana jejak kaki wisatawan tak meninggalkan luka, tapi kehidupan baru. Di tengah lanskap ini berdiri Sheraton Belitung Resort, di mana kenyamanan kontemporer berpadu dengan lanskap alami. Biliton Beach Retreat (Foto: Dok. Tanjung Kelayang Reserve) Tak jauh darinya, Billiton Ekobeach Retreat menawarkan keheningan dalam kemewahan yang sadar lingkungan, tempat empat vila eksklusif berbisik lembut tentang pentingnya ketenangan dan keberlanjutan. Namun, pengalaman sejati di sini bukan hanya tentang tempat menginap. Ia hadir saat tangan menanam bibit Pelepak, saat mata menyaksikan tukik kecil berlari ke lautan, saat tubuh menyusuri jalur pendakian Whistle Trail ditemani nyanyian burung siul dan elang ekor putih yang membelah langit. Air di sini jernih bukan karena kebetulan. Teknologi pemurnian alami dari kaolin (tanah putih khas Belitung) mewujudkan sistem air berkelanjutan yang nyaris tanpa dampak. Arsitektur yang menyatu dengan lanskap menggunakan bata daur ulang dan kayu apung, dikerjakan oleh tangan-tangan pengrajin lokal yang mewariskan rasa hormat pada tanah tempat mereka berpijak. Perairan jernih di Tanjung Kelayang Reserve (Foto: Dok. Tanjung Kelayang Reserve) “Setiap unsur yang kami bangun adalah bagian dari alam itu sendiri,” ujar Daniel Alexander Napitupulu, Direktur Tanjung Kelayang Reserve. “Keberlanjutan bukanlah tren, ini adalah cara hidup. Kami ingin para tamu tidak hanya berlibur, tapi pulang dengan kesadaran baru tentang bagaimana kita hidup berdampingan dengan alam.” Tanjung Kelayang Reserve bukan hanya destinasi; ia adalah gerakan. Sebuah undangan untuk melihat keindahan tidak sebagai konsumen, tetapi sebagai penjaga. Karena di tengah dunia yang terus berubah, tempat seperti ini adalah pengingat bahwa masih ada ruang untuk harapan, selama kita memilih untuk berjalan dengan lembut di bumi. Kesadaran Wisata Berkelanjutan Turis Indonesia Tertinggi di Asia POPULARManami Resort Buktikan Kemewahan Bisa Tumbuh Tanpa Merusak Alam Filipina86Membangun resor mewah di Filipina sering kali identik dengan skala besar, okupansi tinggi, dan eksploitasi lanskap tropis sebagai daya tarik…Ambisi Rosewood Phnom Penh Jadi Pelopor Hotel Sustainable di Kamboja78Di tengah langit kota Phnom Penh yang semakin menjulang, sebuah oase modern menyambut para pelancong dengan wajah baru dari sebuah…Wishing Tree di Laguna Phuket, jadi Inspirasi untuk Peduli Lingkungan76Laguna Phuket kembali mencuri perhatian dengan menghadirkan instalasi Wishing Tree, sebuah karya seni yang memadukan keahlian kerajinan lokal dengan sentuhan… TAGS :hotel Share This Articles Share this article
Dari Kota Tua ke Hutan Pinus, Ini Cara Nikmati Bandung Tanpa Buru-Buru by Febriyanti Salim 1, April, 2026
Strategi Berani Frasers Hospitality Mengubah Wajah Hotel-Hotel Dunia by Yudasmoro Minasiani 16, March, 2026
Kehadiran Club Med Borneo Perkuat Tren Pariwisata Berkelanjutan di Malaysia by Yudasmoro Minasiani 13, March, 2026
Grand Lisboa Palace Macau Jadi Integrated Resort Pertama di Dunia dengan Semua Hotel Five-Star by Novani Nugrahani 9, March, 2026
Manami Resort Buktikan Kemewahan Bisa Tumbuh Tanpa Merusak Alam Filipina by Febriyanti Salim 26, February, 2026
Dari Hokkaido hingga Maladewa, Ini Cara Baru Menikmati Liburan Musim Dingin by Febriyanti Salim 25, February, 2026
MAHA Resort Bali dan Pengalaman Menginap dengan Sentuhan Nightlife dan Wellness by Febriyanti Salim 23, February, 2026
Desain Sustainable Sebagai Masa Depan Pariwisata Global by Yudasmoro Minasiani 5, March, 2022 Dunia pariwisata memasuki babak baru dimana dampak bagi lingkungan kini menjadi pertimbangan dalam...
Langkah Berani Scoot: Terbang ke Belitung dan Pontianak Langsung dari Singapura by Yudasmoro Minasiani 14, April, 2026 Selama bertahun-tahun, narasi pariwisata Indonesia terasa berputar di orbit yang sama: Bali sebagai...
Jadwal Festival di Bhutan Selama 2026 yang Bikin Perjalanan Lebih Bermakna by Yudasmoro Minasiani 14, April, 2026 Bhutan membuka panggungnya lewat rangkaian festival yang terasa seperti itinerary emosional—bukan hanya daftar...
Bintang Baru di Asia: Bhutan, Destinasi Slow Travel Terbaik untuk Healing by Yudasmoro Minasiani 13, April, 2026 Ada satu titik dalam perjalanan ketika kita mulai lelah, bukan karena jarak, tapi...