Rumah makan Padang telah lama menjadi bagian dari keseharian masyarakat Indonesia. Dari kota besar hingga kota kecil, masakan Sumatra Barat mudah ditemukan dengan karakter rempah yang kuat dan ragam gulai yang kaya. Namun, perjalanan cita rasa ini menyimpan kisah lain yang menarik untuk ditelusuri: sejumlah bahan dan teknik memasaknya juga dikenal dalam tradisi kuliner India Selatan. Kisah tersebut menjadi inspirasi bagi Lamuri, restoran terbaru Executive Chef Aman Lakhiani di Jalan Danau Tamblingan, Sanur, Bali. Melalui menu yang menampilkan masakan Sumatra dan India Selatan, Lamuri mengajak pengunjung mengenal dua tradisi kuliner tanpa harus melebur keduanya menjadi hidangan fusion. Bagi Chef Aman, restoran ini merupakan perjalanan personal untuk memahami kembali akar budaya yang membentuk dirinya. Tumbuh di Jakarta dalam keluarga Indonesia dan India Sindhi, ia menjadikan pengalaman masa kecil, perjalanan riset, dan ketertarikannya pada sejarah sebagai landasan dalam merancang konsep Lamuri. Berawal dari Perjalanan ke India Selatan Lamuri merupakan restoran kedua Chef Aman di Jalan Danau Tamblingan, setelah Junsei, restoran yakitori yang berfokus pada teknik pemanggangan arang, serta Tamba by Junsei, ruang teh dan vinyl listening bar. Jika Junsei lahir dari ketertarikannya mendalami tradisi kuliner Jepang, Lamuri membawanya kembali pada latar belakang yang lebih dekat dengan kehidupannya sendiri. Lamuri – Interior Inspirasi awalnya muncul ketika ia melakukan perjalanan ziarah keluarga ke Tamil Nadu, negara bagian di ujung selatan India. Di sejumlah tempat makan yang dikunjunginya, Chef Aman menemukan hidangan yang mengingatkannya pada masakan Padang yang telah akrab sejak kecil. Penggunaan santan, kunyit, jahe, dan kari yang dimasak perlahan menjadi beberapa hal yang menarik perhatiannya. Rasa penasaran itu mendorongnya kembali ke India Selatan. Ia menghabiskan beberapa bulan mempelajari masakan Chettinad di The Bangala, sebuah hotel heritage di Karaikudi yang dikenal menjaga tradisi masakan rumahan setempat. Perjalanannya berlanjut ke berbagai wilayah, termasuk Pondicherry dan Sri Lanka, untuk mengenali teknik memasak, penggunaan rempah, serta kebiasaan bersantap masyarakat setempat. Dari perjalanan inilah gagasan Lamuri berkembang, bukan hanya sebagai restoran yang menyajikan hidangan dari dua wilayah, tetapi juga sebagai ruang untuk memperkenalkan cerita di balik makanan. Menelusuri Jejak Lamuri Nama restoran ini diambil dari Lamuri, sebuah kerajaan kuno sekaligus pelabuhan perdagangan di ujung utara Sumatra, di wilayah yang kini menjadi bagian dari Aceh. Lamuri – Mutton Kola Urundai Dalam berbagai catatan sejarah, Lamuri disebut melalui sumber-sumber seperti prasasti Tamil, catatan perdagangan Tiongkok, dan tulisan para pelancong Arab. Letaknya yang strategis menjadikan kawasan tersebut bagian dari jalur pelayaran yang menghubungkan Sumatra dengan India Selatan dan Sri Lanka. Melalui jalur perdagangan Samudra Hindia, rempah-rempah dan tekstil berpindah antarpelabuhan. Bersamaan dengan itu, perjalanan para pedagang turut membuka ruang bagi pertukaran gagasan, kebiasaan, dan pengetahuan, termasuk yang berkaitan dengan makanan. Tapi, kemiripan sejumlah hidangan tidak selalu dapat dijelaskan oleh satu jalur sejarah. Kondisi tropis dan ketersediaan bahan pangan seperti kelapa, beras, serta hasil laut juga menjadi bagian dari konteks yang membentuk tradisi kuliner kedua wilayah. Nama Lamuri dipilih untuk mengingatkan bahwa makanan memiliki perjalanan panjang sebelum sampai ke meja makan. Bagi Chef Aman, sejarah tersebut menjadi titik berangkat untuk menyusun menu yang tetap menghormati karakter asli setiap hidangan. “Saya sangat peduli untuk menyajikan makanan ini tanpa membuatnya terasa seperti fusion,” ujarnya. Bersantap dengan Cara yang Berbeda Pengalaman bersantap di Lamuri dimulai dari cara hidangan disajikan. Daun pisang dibentangkan di atas meja sebagai alas makan, kari hadir dalam mangkuk terakota, sementara hidangan pendamping disajikan di atas piring baja yang lazim ditemukan di rumah makan India Selatan. Pengaturan ini terinspirasi dari pengalaman Chef Aman dan timnya mengunjungi tempat-tempat makan selama perjalanan riset. Di sejumlah dapur rumahan, mereka menyaksikan masala dihaluskan dengan tangan dan hidangan disajikan dengan pendekatan yang sederhana, tanpa mengurangi perhatian terhadap rasa. Di Lamuri, beberapa menu juga paling nikmat disantap langsung menggunakan tangan. Cara ini menghadirkan pengalaman yang lebih dekat dengan tradisi makan yang menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari di berbagai wilayah Asia Selatan dan Nusantara. Salah satu hidangan yang mewakili kuliner India Selatan adalah Chicken 65, sajian klasik Chennai berupa ayam goreng berwarna keemasan yang disertai daun kari renyah. Bagi penyuka rasa yang lebih segar dan tajam, Meen Kuzhambu menawarkan olahan ikan dalam kari asam jawa. Sementara itu, dosa tersedia saat makan siang, disajikan tipis dan renyah. Dari Sumatra, Dendeng Balado memadukan irisan daging yang garing dengan keripik kentang dan sambal bercita rasa manis pedas. Ada pula Ayam Tangkap Aceh, yang dilengkapi daun kari dan pandan goreng untuk memberikan aroma khas pada hidangan. Perhatian terhadap tekstur terlihat dalam Sri Lankan Mutton Rolls, kudapan berlapis tepung roti renyah dengan isian daging berbumbu. Ketelitian dalam mengolah tekstur merupakan salah satu keterampilan yang terus diasah Chef Aman melalui pengalamannya mendalami kuliner Jepang dan mengembangkan Junsei. Sementara itu, Kare Kambing menghadirkan daging yang dimasak perlahan bersama racikan rempah Sumatra dan India Selatan. Untuk menu makan malam, Fish Pollichathu menyajikan ikan bawal putih yang dipanggang dalam balutan daun pisang, teknik yang dikenal dalam tradisi kuliner Kerala. Mengangkat Bahan Lokal Pilihan vegetarian juga menjadi bagian penting dari menu Lamuri. Salah satu hidangan yang menarik perhatian adalah Gulai Jengkol, olahan bahan pangan lokal yang dikenal karena aromanya yang kuat dan kerap memunculkan perdebatan di kalangan penikmat kuliner. Di Lamuri, jengkol dimasak perlahan dalam gulai santan khas Sumatra Barat. Hidangan ini memperlihatkan bagaimana bahan yang telah lama menjadi bagian dari kuliner Indonesia dapat memperoleh perhatian melalui teknik pengolahan yang tepat. “Kita benar-benar harus tahu cara mengolahnya,” kata Chef Aman. “Jadi saya sangat senang bisa mengangkat bahan yang khas Indonesia ini dan menyajikannya dengan cara yang lezat.” Lamuri – Masala Uttapam Pilihan tersebut sekaligus memperlihatkan pendekatan Lamuri terhadap bahan pangan: tidak semata mengandalkan bahan populer, tetapi juga memberi tempat bagi kekayaan kuliner lokal yang memiliki karakter kuat. Interior Penuh Warna di Sanur Karakter Lamuri tidak hanya tercermin melalui menu. Berbeda dari Junsei yang didominasi kayu gelap dan pencahayaan temaram, Lamuri tampil dengan warna-warna berani dan cahaya alami. Pilar merah tua menjulang hingga langit-langit kayu yang tinggi, sementara lantai terakota menghadirkan nuansa tanah merah yang mengingatkan pada lanskap India Selatan. Di tengah ruangan, bangku panjang berwarna indigo menjadi salah satu elemen yang menonjol. Chef Aman dan istrinya, Kiara, turut merancang mosaik pada pilar restoran melalui Philip Lakeman Ceramic, yang berlokasi tidak jauh dari Lamuri, di Jalan Danau Poso. “Kami ingin menghadirkan karakter kami sendiri ke dalam ruang ini,” ujarnya. Panel kayu berukir khas Bali yang merupakan bagian asli bangunan tetap dipertahankan, kemudian dicat dengan warna hijau, biru, oranye, dan merah muda yang cerah. Hiasan dinding yang dikumpulkan selama perjalanan riset menambahkan beragam tekstur dan cerita, sedangkan dapur terbuka menjadi pusat aktivitas yang menghidupkan suasana restoran. Meja-meja panjang dirancang untuk mengakomodasi keluarga dan kelompok besar yang ingin berbagi hidangan. Suasana santai seperti ini terasa sesuai dengan karakter Sanur, kawasan pesisir Bali yang sejak lama dikenal sebagai tempat untuk menikmati waktu bersama keluarga dan sahabat. Lamuri menjadi babak baru dalam perjalanan Chef Aman sebagai seorang chef. Restoran ini menghubungkan pengalaman masa kecil, riset kuliner, dan ketertarikannya pada sejarah dalam sebuah konsep yang diterjemahkan melalui makanan dan ruang. Di meja Lamuri, pengunjung dapat menikmati kari Tamil, gulai Sumatra, hingga hidangan khas Sri Lanka tanpa kehilangan karakter masing-masing. Pengalaman bersantap pun menjadi kesempatan untuk mengenal lebih jauh perjalanan bahan, teknik, dan tradisi yang membentuk setiap sajian. Bagi Chef Aman, Lamuri terasa seperti kembali ke akar sekaligus melangkah ke tahap berikutnya dalam perjalanan kulinernya. POPULARPONY Hadir di Berawa, Destinasi Social Dining Baru yang Wajib Dicoba di Bali96Ada tempat-tempat yang diciptakan bukan sekadar untuk bersantap, melainkan untuk membuat orang betah berlama-lama. Sebuah ruang yang mengundang percakapan mengalir,…KALA, Restoran Bergaya Yunani di Bukit Uluwatu95KALA Uluwatu - Tambahan terbaru di dunia kuliner yang ramai di Uluwatu, KALA Uluwatu secara resmi membuka pintunya pada Juni…Friends Bar, Bar Baru di Canggu yang Terinspirasi Serial Friends95Canggu - Ada banyak bar yang bertebaran di Bali, namun bila merindukan bar yang tak sekadar tempat untuk menikmati minuman… TAGS :bali foodie Share This Articles Share this article
Sunday at Oliverra: Merayakan Brunch Mediterania dengan Kreasi Koktail by Febriyanti Salim 13, October, 2026
Menemukan Sisi Tenang Canggu di Seahaven Villas by Kamuela by Yudasmoro Minasiani 24, September, 2026
Bali yang Tak Ada di Brosur Wisata: Menemukan Pulau Dewata Lewat Orang-Orang yang Menjaganya by Febriyanti Salim 21, September, 2026
Kisah Cinta Rahasia di Balik La Réserve 1785, Hotel Eksklusif di Pererenan Bali by Yudasmoro Minasiani 18, September, 2026
7 Cara Menikmati Wellness Escape di Grand Hyatt Bali, dari Tennis hingga Ritual Melukat by Yudasmoro Minasiani 15, September, 2026
Alunê di W Bali – Seminyak: Ketika Luxury Travel Tak Lagi Soal Kemewahan, tapi Cara Menikmati Waktu by Novani Nugrahani 14, September, 2026
Tradisi Bali Bertemu Kreativitas Modern di Powerful Indonesia Festival 2026 by Febriyanti Salim 20, August, 2026
Bukan Sekadar Steakhouse, RISERVA Membawa Ritual Bali ke Meja Fine Dining by Yudasmoro Minasiani 18, August, 2026
Desain Sustainable Sebagai Masa Depan Pariwisata Global by Yudasmoro Minasiani 5, March, 2022 Dunia pariwisata memasuki babak baru dimana dampak bagi lingkungan kini menjadi pertimbangan dalam...
Di Pattaya, Izakaya Hadir dengan Perspektif yang Tak Biasa by Febriyanti Salim 29, October, 2026 Budaya bersantap Jepang tidak selalu identik dengan restoran formal dan hidangan yang disajikan...
Bukan Sekadar Wisata Alam, Eiger Nature Bidik Ekonomi Hijau di Bogor by Febriyanti Salim 29, October, 2026 Di tengah kawasan pegunungan Megamendung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, sebuah destinasi baru hadir...
Berburu Tiket Pesawat Murah, Jangan Hanya Terpaku pada Harga by Febriyanti Salim 28, October, 2026 Merencanakan perjalanan sering kali dimulai dari satu hal sederhana: mencari tiket pesawat. Sebelum...