Now Reading:

Liburan ke Singapura Tanpa Boros: Hitungan Realistis 3 Hari 2 Malam

Singapura sering mendapat reputasi sebagai destinasi yang mahal. Hotelnya tidak murah, makan di restoran bisa menguras dompet, sementara secangkir kopi di kawasan populer terkadang sudah cukup untuk membuat wisatawan Indonesia berpikir dua kali.

Namun, mahal bukan berarti harus boros. Dengan strategi yang tepat, Singapura justru termasuk destinasi yang cukup mudah dikendalikan bujetnya. Sistem transportasi publiknya efisien, pilihan makanan di hawker centre masih relatif bersahabat, dan banyak pengalaman menarik yang tidak membutuhkan tiket masuk sama sekali.

Untuk perjalanan 3 hari 2 malam, wisatawan Indonesia sebenarnya bisa menikmati Singapura dengan nyaman tanpa harus menginap di hotel mahal atau menghabiskan waktu dari satu atraksi berbayar ke atraksi lainnya.

Kuncinya sederhana: pilih lokasi menginap yang tepat, gunakan MRT, makan seperti warga lokal, dan jangan merasa harus membeli tiket untuk setiap tempat wisata.

Berapa Bujet yang Realistis?

Untuk memudahkan perhitungan, simulasi berikut menggunakan asumsi:

  • Durasi: 3 hari 2 malam
  • Wisatawan: 1 orang
  • Hotel: kamar hotel budget/3-star, berbagi kamar berdua
  • Transportasi utama: MRT dan bus
  • Makan: hawker centre, food court, dan restoran casual sesekali
  • Atraksi: kombinasi tempat gratis dan maksimal 1 atraksi berbayar
  • Belum termasuk belanja pribadi
  • Belum termasuk tiket pesawat dalam bujet utama

Dengan kurs acuan S$1 ≈ Rp14.052, gambaran kasarnya seperti ini.

KebutuhanEstimasi S$Estimasi Rupiah
Hotel 2 malam/orangS$120–160Rp1,69–2,25 juta
Makan 3 hariS$55–70Rp773 ribu–984 ribu
TransportasiS$20–30Rp281–422 ribu
AtraksiS$0–32Rp0–450 ribu
Kopi/snack/miscellaneousS$20–30Rp281–422 ribu
TotalS$215–322Rp3,02–4,53 juta

Jadi, sekitar Rp3–4,5 juta per orang untuk pengeluaran selama di Singapura merupakan angka yang cukup realistis untuk gaya perjalanan hemat tetapi tetap nyaman.

Jika ditambah tiket pesawat pulang-pergi dari Jakarta, totalnya bisa berada di kisaran Rp5,3–6,9 juta per orang, tergantung tanggal dan maskapai. Harga tiket memang sangat dinamis. Saat artikel ini disusun, mesin pencarian penerbangan menunjukkan tiket pulang-pergi Jakarta–Singapura mulai sekitar Rp2,3 jutaan, sementara harga termurah sekali jalan berada di bawah Rp1 juta pada beberapa tanggal.

Hari Pertama: Jangan Langsung Mengejar Atraksi

Kesalahan yang sering dilakukan wisatawan saat pertama kali ke Singapura adalah membuat itinerary terlalu padat. Padahal, Singapura lebih menyenangkan ketika dijelajahi dengan ritme yang sedikit lebih santai. Setelah tiba di Changi Airport, langsung menuju hotel menggunakan MRT. Tidak perlu terburu-buru memesan taksi kecuali membawa banyak koper atau bepergian bersama keluarga besar.

Foto: Pexels/Kenny Foo

Untuk wisatawan, Singapore Tourist Pass memang tersedia dengan harga mulai S$17 per hari dan memberikan perjalanan tanpa batas pada layanan bus dasar serta MRT/LRT selama masa berlaku.

Mulailah perjalanan dari Chinatown.

Kawasan ini menarik bukan hanya karena Buddha Tooth Relic Temple atau deretan toko suvenir, tetapi karena di sinilah pengalaman Singapura terasa lebih hidup. Berjalan kaki menyusuri Chinatown Street Market, masuk ke gang-gang kecil, kemudian mencari makan siang di Chinatown Complex bisa menjadi pengalaman yang jauh lebih berkesan daripada menghabiskan siang di mal.

Untuk makanan, siapkan sekitar S$5–8 sekali makan, atau sekitar Rp70–112 ribu. Harga hawker food pada 2026 umumnya masih berada di kisaran S$4,50–7 untuk satu porsi makanan.

Dari Chinatown, lanjutkan perjalanan ke Kampong Glam.

Kawasan di sekitar Arab Street dan Haji Lane cocok untuk sore hari. Selain Masjid Sultan, kawasan ini dipenuhi butik independen, kafe, mural, dan bangunan heritage yang membuat suasananya berbeda dari wajah Singapura yang serba modern.

Yang menarik, sebagian besar pengalaman di sini gratis. Tidak perlu membayar tiket untuk berjalan kaki, memotret arsitektur, atau menikmati atmosfer kawasan.

Foto: Pexels/Kenny Foo

Menjelang malam, baru arahkan langkah ke Marina Bay.

Nikmati pemandangan skyline Singapura dari area waterfront. Marina Bay Sands, ArtScience Museum, Helix Bridge, dan gedung-gedung pencakar langit akan memberikan pengalaman khas Singapura tanpa membuat dompet menipis.

Hari Kedua: Singapura yang Lebih Hijau

Datang pagi atau menjelang siang ke Gardens by the Bay.

Area outdoor dan Supertree Grove bisa dinikmati tanpa harus membeli tiket. Jika ingin masuk ke Flower Dome atau Cloud Forest, barulah siapkan bujet tambahan.

Harga tiket atraksi tersebut perlu diperiksa kembali saat pemesanan karena tarif dapat berubah; sebagai referensi resmi, Gardens by the Bay mencantumkan harga dalam SGD dan sudah termasuk GST. Jika ingin menghemat, pilih salah satu atraksi berbayar saja.

Untuk makan siang, kembali ke konsep lokal. Jangan terlalu sering makan di restoran yang berada di kawasan wisata. Selain lebih mahal, pengalaman kulinernya belum tentu lebih menarik.

Salah satu trik yang biasa saya gunakan ketika membawa wisatawan adalah membuat pola: sarapan sederhana → makan siang hawker → makan malam casual.

Dengan pola tersebut, bujet makan sekitar S$18–25 per hari masih cukup realistis untuk wisatawan yang tidak terlalu banyak ngemil.

Sore hari bisa diarahkan ke Singapore Botanic Gardens.

Ini salah satu contoh bagaimana Singapura dapat dinikmati tanpa tiket mahal. Alih-alih menghabiskan beberapa puluh dolar Singapura untuk atraksi, wisatawan bisa mengalokasikan waktu untuk berjalan kaki, menikmati taman, atau sekadar duduk menikmati suasana kota yang surprisingly hijau.

Foto: Pexels/Monica Tran

Malamnya, berjalan-jalan ke Orchard Road.

Tidak harus berbelanja. Nikmati atmosfer kawasan retail Singapura, masuk ke beberapa mal, mencari dessert atau kopi, lalu kembali ke hotel menggunakan MRT.

Hari Ketiga: Jangan Terlalu Ambisius

Hari terakhir sebaiknya tidak dibuat terlalu padat. Setelah sarapan, gunakan waktu untuk menjelajahi kawasan yang belum sempat dikunjungi.

Pilihan menarik adalah Little India.

Kawasan ini memberikan pengalaman yang berbeda lagi: kuil, toko rempah, restoran India, mural, serta Mustafa Centre yang menjadi salah satu tempat populer bagi wisatawan Indonesia untuk berburu oleh-oleh. Untuk sarapan atau brunch, Anda bisa mencoba makanan lokal seperti prata atau nasi biryani dengan bujet sekitar S$5–9.

Setelah itu kembali ke hotel, mengambil koper, kemudian menuju Changi Airport. Jika penerbangan malam, tentu itinerary dapat diperpanjang dengan kawasan seperti Jewel Changi.

Catatan: seluruh perhitungan merupakan estimasi untuk perencanaan perjalanan. Kurs, tarif hotel, tiket atraksi, dan tiket pesawat dapat berubah sewaktu-waktu. Kurs acuan artikel menggunakan sekitar Rp14.052 per S$1 berdasarkan data Bank Indonesia yang tersedia pada 1 September 2026.

POPULAR

Share This Articles
Klook.com