Now Reading:

Delapan Tahun de Braga by ARTOTEL, Menanam untuk Masa Depan Bandung

Ulang tahun hotel biasanya dirayakan dengan sesuatu yang segera selesai: makan malam, pesta, atau sekadar perayaan bersama tamu dan karyawan. Namun, de Braga by ARTOTEL memilih cara yang sedikit berbeda. Memasuki usia delapan tahun, hotel yang berada di salah satu koridor bersejarah Kota Bandung itu justru memilih menanam.

Bersama Taman Hutan Raya (Tahura) Ir. H. Djuanda, de Braga by ARTOTEL menjalankan program Grow Green, Grow Together, bagian dari inisiatif The Art of Goodness yang dikembangkan Artotel Group. Sebanyak 50 pohon akasia ditanam sebagai bagian dari komitmen penghijauan dan pelestarian lingkungan.

Tahura, tak Sekadar Hutan Kota

Pilihan lokasinya bukan tanpa alasan. Tahura Ir. H. Djuanda merupakan bagian penting dari lanskap ekologis Bandung, sebuah kawasan konservasi terpadu yang mempertemukan hutan tanaman dengan alam sekunder. Fungsinya pun melampaui ruang hijau perkotaan: kawasan ini menjadi tempat konservasi tumbuhan dan satwa, sekaligus mendukung penelitian, pendidikan, kebudayaan, pariwisata, dan rekreasi.

Di tengah kota yang terus berkembang, keberadaan kawasan seperti Tahura menjadi semakin penting. Bandung bukan hanya kumpulan bangunan, jalan, hotel, dan ruang komersial. Ia juga merupakan sebuah ekosistem yang bergantung pada keberadaan ruang-ruang hijau untuk menjaga keseimbangan lingkungan.

Karena itu, menanam pohon sebenarnya bukan sekadar aktivitas seremonial. Nilainya justru terletak pada apa yang terjadi setelah bibit ditanam.

Dan di titik inilah program Grow Green, Grow Together mencoba mengambil jarak dari pendekatan penghijauan yang berhenti pada dokumentasi penanaman. de Braga by ARTOTEL bersama Tahura Ir. H. Djuanda membawa komitmen pemeliharaan dan pemantauan selama 20 tahun. Artinya, keberhasilan program tidak akan diukur dari berapa banyak pohon yang ditanam pada satu hari, melainkan dari seberapa jauh pohon-pohon tersebut mampu tumbuh dan bertahan dalam jangka panjang.

Dalam perspektif keberlanjutan, pendekatan semacam ini jauh lebih relevan. Restorasi dan penghijauan bukan perkara angka penanaman, melainkan soal survival rate, pemeliharaan, kesesuaian vegetasi dengan ekosistem, serta kontinuitas pengelolaan. Sebuah pohon yang ditanam hari ini baru memiliki arti ekologis ketika ia berhasil melewati tahun-tahun berikutnya.

Bagi industri perhotelan, perspektif tersebut juga menjadi semakin penting. Hotel beroperasi di dalam sebuah destinasi, menggunakan sumber daya alam, menghasilkan limbah, mengonsumsi energi, sekaligus bergantung pada kualitas lingkungan di sekitarnya. Dengan kata lain, keberlangsungan bisnis hospitality tidak dapat dipisahkan dari keberlangsungan destinasi tempatnya berdiri.

Artotel Group menerjemahkan gagasan tersebut melalui The Art of Goodness, sebuah pendekatan keberlanjutan berbasis ESG yang mencakup tiga aspek: lingkungan, manusia, dan bisnis. Di dalamnya terdapat artotel Earth, yang berfokus pada pengelolaan lingkungan melalui sejumlah inisiatif, mulai dari pengelolaan air dan limbah, efisiensi energi, pengurangan emisi, hingga pengelolaan destinasi secara bertanggung jawab.

Komitmen itu juga memiliki pijakan yang lebih formal. de Braga by ARTOTEL merupakan salah satu properti dalam Artotel Group yang memperoleh sertifikasi Global Sustainable Tourism Council (GSTC). Sertifikasi tersebut menjadi pengakuan atas penerapan standar pariwisata berkelanjutan sekaligus fondasi untuk terus memperbaiki praktik keberlanjutan di tingkat properti.

Namun, sertifikasi seharusnya bukan titik akhir. Ia justru menjadi baseline, sebuah standar minimum yang membuka ruang untuk perbaikan berikutnya.

Bagi Tri Wenda Agus Setyabudi, General Manager de Braga by ARTOTEL, keberlanjutan bukan lagi sekadar pilihan, melainkan tanggung jawab. Karena itu, delapan tahun perjalanan hotel tersebut ingin diterjemahkan ke dalam sesuatu yang memiliki umur jauh lebih panjang daripada sebuah perayaan: pohon-pohon yang akan dirawat dan dipantau selama dua dekade.

Foto: Dok. de Braga by ARTOTEL

Gagasan tersebut terdengar sederhana. Tetapi justru di situlah tantangannya. Keberlanjutan selalu berhadapan dengan waktu. Ia menuntut konsistensi ketika perhatian publik sudah berpindah, ketika sebuah kampanye sudah selesai, dan ketika tidak ada lagi kamera yang merekam. Menanam adalah tindakan sesaat; merawat adalah pekerjaan yang sesungguhnya.

Bagi sebuah hotel yang tumbuh di jantung kawasan heritage Braga, gagasan ini juga membawa makna lain. de Braga by ARTOTEL selama ini menjadikan sejarah, budaya, dan karakter lokal sebagai bagian dari pengalaman tamunya. Hotel tersebut memiliki 112 kamar dan berada di Jalan Braga No. 10, sebuah kawasan yang menjadi salah satu ikon historis Bandung.

Maka, ketika sebuah hotel berbicara tentang pertumbuhan, pertanyaannya bukan lagi hanya seberapa besar bisnisnya berkembang. Pertanyaan yang lebih penting adalah: apa yang ikut tumbuh bersama bisnis tersebut?

Apakah lingkungan mendapatkan manfaat? Apakah destinasi menjadi lebih resilien? Apakah masyarakat dan ekosistem di sekitarnya memperoleh nilai yang bertahan lebih lama daripada satu musim promosi?

Grow Green, Grow Together mencoba menjawabnya melalui sebuah tindakan yang sangat elementer: menanam, lalu berkomitmen untuk merawat.

Satu pohon mungkin tidak akan mengubah wajah Bandung. Bahkan 50 pohon pun tidak akan menyelesaikan persoalan ekologis sebuah kota. Tetapi keberlanjutan memang tidak bekerja melalui satu aksi tunggal. Ia dibangun dari akumulasi keputusan kecil yang dilakukan secara konsisten, oleh hotel, pengelola kawasan, masyarakat, dan para pelaku industri yang hidup dari sebuah destinasi.

Sebab hotel boleh dibangun dalam hitungan tahun. Sebuah destinasi mungkin berkembang dalam satu generasi. Tetapi ekosistem membutuhkan waktu yang jauh lebih panjang untuk tumbuh. Dan mungkin, bentuk perayaan yang paling masuk akal untuk sebuah bisnis yang hidup dari sebuah kota adalah memberikan sesuatu kembali kepada alam yang menopangnya.

POPULAR

Share This Articles
Klook.com