Now Reading:

Baru Buka, Mövenpick di Bintan Usung Filosofi Luxury yang Berbeda

Di tengah perjalanan yang semakin dipenuhi itinerary, kemewahan perlahan bergeser. Bukan lagi tentang seberapa banyak tempat yang bisa dikunjungi, melainkan seberapa bebas seseorang menentukan ritmenya sendiri. Mövenpick Resort & Spa Bintan Lagoon membaca perubahan itu dengan cara yang cukup menarik.

Ada masa ketika liburan dianggap berhasil jika itinerary-nya penuh. Bangun pagi untuk mengejar sunrise, berpindah dari satu destinasi ke destinasi berikutnya, mencari restoran yang sedang ramai dibicarakan, lalu menutup hari dengan satu lagi tempat yang “wajib” dikunjungi. Bahkan waktu bersantai pun kadang terasa seperti bagian dari agenda yang harus diselesaikan.

Mövenpick Resort & Spa Bintan Lagoon – Sonada Beach Club (Foto: Supplied)

Namun, barangkali definisi luxury travel sedang bergerak ke arah sebaliknya. Kemewahan hari ini bisa jadi justru terletak pada kemampuan untuk tidak terburu-buru. Memiliki satu hari tanpa agenda. Memilih sarapan lebih lama. Menghabiskan sore di tepi kolam. Bermain golf, lalu memutuskan untuk pergi ke spa. Atau sekadar duduk menikmati Chocolate Hour tanpa merasa harus segera pergi ke tempat berikutnya.

Di Bintan, gagasan tersebut menemukan bentuknya melalui Mövenpick Resort & Spa Bintan Lagoon, yang resmi dibuka pada Agustus 2026 di pesisir utara pulau ini.

Luxury yang Memberi Pilihan

Mövenpick Resort & Spa Bintan Lagoon punya 408 kamar dan suite dengan balkon atau teras pribadi yang menghadap taman maupun laut.  Untuk keluarga, tersedia Little Birds Club dengan area bermain indoor dan outdoor, arts and crafts, serta aktivitas interaktif. Sementara Recreation Village menggabungkan fitness, olahraga, yoga, Pilates, aktivitas keluarga, dan ruang untuk bersantai.

Mövenpick Resort & Spa Bintan Lagoon (Foto: Supplied)

Dulu, hotel adalah tempat untuk kembali setelah seharian menjelajah. Kini, resort terbaik justru berusaha membuat tamu memiliki cukup alasan untuk tidak pergi ke mana-mana.

Mövenpick Bintan dibangun dengan logika tersebut.

Pilihan kulinernya bergerak dari Port 19 yang menyajikan masakan Indonesia, Asia, dan internasional, hingga Yokatta Izakaya & Bar dengan sushi, udon, yakitori, dan sake. Klon-Tong Deli mengambil inspirasi dari Bintan era 1980-an, sementara Ocean Pool Bar menawarkan minuman dan makanan ringan dari area swim-up.

Di pantai, Soñada Beach Club membawa atmosfer yang berbeda dengan hidangan Pan-Asian dan Italia, cocktail, cabana, kolam renang, serta DJ pada akhir pekan.

Bahkan Waktu Makan Dibuat Menjadi Ritual

Dalam konsep Mövenpick, makanan bukan sekadar fasilitas hotel, tapi jadi bagian dari waktu orang berkumpul.

Salah satu contohnya adalah Chocolate Hour, ritual harian khas Mövenpick yang mengajak tamu berhenti sejenak untuk menikmati cokelat bersama. Sederhana, bahkan nyaris banal jika dilihat dari luar. Tetapi justru pengalaman semacam ini terasa semakin relevan ketika perjalanan modern terlalu sering diukur berdasarkan jumlah aktivitas.

Sebab tidak semua pengalaman harus spektakuler. Sebagian justru bekerja karena memberi alasan sederhana untuk berhenti.

Untuk Mereka yang Tetap Ingin Bergerak

Konsep slow travel tentu tidak berarti semua orang ingin berdiam diri. Bagi mereka yang membutuhkan aktivitas, resort ini memiliki akses ke Bintan Lagoon International Golf dengan dua lapangan 18-hole yang dirancang oleh Jack Nicklaus dan Ian Baker-Finch. Sementara Shantara Spa & Wellness menawarkan ruang perawatan privat, couple’s rooms, reflexology, facial treatments, sauna, dan steam room.

Shantara Spa (Foto: Supplied)

Di sini, wellness tidak harus berarti menghabiskan satu hari penuh dengan program kesehatan. Golf, berenang, berjalan di pantai, kemudian menikmati treatment bisa menjadi wellness dengan definisi yang lebih personal.

Luxury, sekali lagi, bukan tentang fasilitas sebanyak-banyaknya, tapi tentang memiliki cukup pilihan untuk menentukan fasilitas mana yang benar-benar dibutuhkan.

Maka, mungkin luxury travel generasi berikutnya tidak akan bertanya, “Berapa banyak yang bisa kita lakukan?” tapi “Apa yang sebenarnya ingin kita lakukan hari ini?” Dan jika jawabannya adalah tidak melakukan apa-apa, mungkin itu pun mungkin sudah cukup.

POPULAR

Share This Articles
Klook.com