Aksi hijau tidak selalu dimulai dari hal besar. Di lereng Batukaru, langkah itu dimulai dengan menanam 100 pohon, dan komitmen untuk memastikan pohon-pohon tersebut tetap hidup setelah seremoni penanaman selesai. Melalui Nuanu Social Fund, Nuanu Creative City mengambil bagian dalam program reforestasi di sekitar Pura Luhur Batukaru, Tabanan, Bali. Penanaman dimulai hari ini di kawasan hutan seluas 1.000 meter persegi, melanjutkan persiapan lahan yang telah dilakukan sejak pertengahan Agustus. Sebanyak 100 pohon ditanam, terdiri dari 30 beringin, 50 mahoni, dan 20 cempaka (Magnolia champaca). Program ini merupakan bagian dari agenda reforestasi yang dipimpin Dinas Kehutanan Provinsi Bali, dengan Bali Tourism Board turut menjadi mitra dari sektor pariwisata. Partisipan reforestasi (Foto: Dok. Nuanu Creative City) Namun, kontribusi Nuanu tidak berhenti pada penyediaan bibit dan penanaman. Nuanu Social Fund juga mengambil tanggung jawab untuk pemeliharaan dan pemantauan selama 12 bulan. Penyiraman, penggantian bibit yang tidak bertahan hidup, hingga perlindungan kawasan menjadi bagian dari komitmen tersebut. Langkah ini penting. Sebab dalam reforestasi, menanam pohon adalah awal, bukan akhir. Keberhasilan sesungguhnya baru dapat dilihat ketika bibit mampu bertahan dan tumbuh menjadi bagian dari ekosistem. Aksi Hijau yang Menyentuh Hulu Pilihan Batukaru juga membawa pesan ekologis yang kuat. Kawasan lereng Gunung Batukaru merupakan salah satu kawasan tangkapan air penting di Bali. Ekosistemnya berperan menopang 20 sistem irigasi subak di kawasan Catur Angga Batukaru serta kehidupan masyarakat di tujuh desa di sekitarnya. Kerusakan tutupan vegetasi di kawasan hulu dapat membawa konsekuensi panjang ke wilayah bawah. Kemampuan tanah menyimpan air berkurang, risiko erosi meningkat, dan pada akhirnya dapat memengaruhi kawasan pertanian yang selama ini menjadi bagian penting dari lanskap Bali. Karena itu, bagi Nuanu, keterlibatan dalam program ini menjadi lebih dari sekadar aktivitas menanam pohon. Ada upaya untuk ikut mendukung pemulihan fungsi ekologis sebuah kawasan yang memiliki hubungan langsung dengan kehidupan masyarakat. “Reforestasi tidak selesai ketika pohon selesai ditanam. Justru sebagian besar kebutuhan pemeliharaan dan risikonya berada pada saat setelah penanaman,” ujar Auditya Sari, Head of Nuanu Social Fund. Penanaman 100 pohon (Foto: Dok. Nuanu Creative City) Atas dasar itu, Nuanu Social Fund berkomitmen mendukung proses selama satu tahun dan akan mempublikasikan tingkat keberhasilan hidup pohon setelah periode pemantauan selesai. Hasil tersebut akan menjadi bagian penting untuk melihat seberapa efektif program yang dijalankan. Menggabungkan Ekologi dan Budaya Pemilihan jenis pohon dalam program ini juga tidak dilakukan secara sembarangan. Beringin, mahoni, dan cempaka dipilih bersama Dinas Kehutanan Provinsi Bali serta tenaga teknis setempat dengan mempertimbangkan kondisi tanah dan karakter kawasan Batukaru. Beringin bahkan memiliki hubungan erat dengan lanskap budaya Bali. Keberadaannya kerap ditemukan di ruang-ruang sakral, termasuk kawasan pura. Menanam kembali beringin di sekitar Pura Luhur Batukaru dengan demikian membawa dimensi yang lebih luas: memulihkan alam sekaligus menjaga karakter lanskap budaya yang telah hidup selama generasi. Pelaksanaan program juga melibatkan Jero Bendesa Adat, pengempon dan pengurus Pura Luhur Batukaru, pemerintah desa, serta masyarakat sekitar. Keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting dari pendekatan Nuanu. Mereka bukan sekadar penerima manfaat, melainkan ikut mengambil peran dalam pemeliharaan, pemantauan, penyediaan tenaga kerja, hingga pengambilan keputusan selama program berlangsung. “Kami mendanai proses selama satu tahun dan akan mempublikasikan tingkat keberhasilan hidup pohon setelah 12 bulan, apa pun hasilnya,” kata Auditya. Menurutnya, peran Nuanu adalah mendukung agenda reforestasi yang dipimpin Dinas Kehutanan Provinsi Bali, sembari menghormati pengetahuan dan pengalaman masyarakat yang telah menjaga lanskap Batukaru jauh sebelum program ini berjalan. Ketika Industri Pariwisata Ikut Bertanggung Jawab Keterlibatan Bali Tourism Board membuat aksi hijau ini mendapatkan dimensi lain. Perlindungan kawasan tangkapan air pada akhirnya juga berkaitan langsung dengan keberlangsungan industri pariwisata Bali. Hotel, vila, restoran, hingga berbagai bisnis pariwisata membutuhkan air untuk beroperasi. Dan sebagian sumber daya tersebut bergantung pada kemampuan kawasan hulu dalam menangkap serta menyimpan air. “Industri pariwisata memiliki kepentingan langsung terhadap kemampuan kawasan tangkapan air ini untuk tetap berfungsi,” ujar Ida Bagus Agung Partha Adnyana, Chairman of the Bali Tourism Board. Kolaborasi ini sekaligus membuka kemungkinan bagi lebih banyak pelaku industri untuk mengambil bagian dalam program lingkungan yang dipimpin pemerintah, sesuai dengan kebutuhan ekologis masing-masing kawasan. Bagi Nuanu, langkah di Batukaru menjadi bagian dari gagasan yang lebih besar tentang bagaimana sektor swasta dapat mengambil peran dalam persoalan lingkungan—bukan hanya melalui kampanye, tetapi lewat keterlibatan yang dapat diukur dan dipantau. Penanaman akan berlangsung hingga 2 September. Setelahnya, 100 pohon tersebut akan memasuki periode pemeliharaan dan pemantauan selama 12 bulan. Tingkat keberhasilan hidup dan pertumbuhannya akan dipublikasikan pada September 2027. POPULARDesain Sustainable Sebagai Masa Depan Pariwisata Global65Dunia pariwisata memasuki babak baru dimana dampak bagi lingkungan kini menjadi pertimbangan dalam pengelolaan sebuah destinasi. Kondisi inilah yang memicu…Agoda Gandeng WWF, Luncurkan Kampanye Wisata Ramah Lingkungan63Dalam semangat kolaborasi lintas negara, platform perjalanan digital Agoda meluncurkan edisi keempat program Eco Deals pada ASEAN Tourism Forum (ATF)…Menyulam Warna Kehidupan di Tengah Komunitas Bersama Frasers Hospitality62Di balik gemerlap industri perhotelan, Frasers Hospitality menghadirkan sesuatu yang jauh lebih hangat dari sekadar layanan lima bintang. Tahun ini,… TAGS :sustainable wellness Share This Articles Share this article
Delapan Tahun de Braga by ARTOTEL, Menanam untuk Masa Depan Bandung by Febriyanti Salim 26, August, 2026
Manami Resort Buktikan Kemewahan Bisa Tumbuh Tanpa Merusak Alam Filipina by Febriyanti Salim 26, February, 2026
Menyulam Warna Kehidupan di Tengah Komunitas Bersama Frasers Hospitality by Febriyanti Salim 7, October, 2025
Ambisi Rosewood Phnom Penh Jadi Pelopor Hotel Sustainable di Kamboja by Yudasmoro Minasiani 19, May, 2025
Tanjung Kelayang Reserve, Saat Konservasi dan Kenyamanan Menyatu Sempurna by Yudasmoro Minasiani 8, May, 2025
Wishing Tree di Laguna Phuket, jadi Inspirasi untuk Peduli Lingkungan by Febriyanti Salim 21, January, 2025
Desain Sustainable Sebagai Masa Depan Pariwisata Global by Yudasmoro Minasiani 5, March, 2022 Dunia pariwisata memasuki babak baru dimana dampak bagi lingkungan kini menjadi pertimbangan dalam...
Traveling ke Inggris Jadi Lebih Praktis, VFS Global Hadirkan Dua Pilihan Layanan Visa by Yudasmoro Minasiani 26, August, 2026 Mengurus visa sering kali menjadi bagian yang kurang menyenangkan dari sebuah perjalanan. Sebelum...
Delapan Tahun de Braga by ARTOTEL, Menanam untuk Masa Depan Bandung by Febriyanti Salim 26, August, 2026 Ulang tahun hotel biasanya dirayakan dengan sesuatu yang segera selesai: makan malam, pesta,...
Menikmati Mid-Autumn Festival dengan Pengalaman Kuliner dan Staycation di Gading Serpong by Novani Nugrahani 24, August, 2026 Ada banyak cara untuk menikmati sebuah perjalanan. Tidak selalu harus pergi jauh atau...