Now Reading:

Hasrat, Rasa dan Perjalanan Blake Thornley Menuju Kuliner Berkelas Dunia

Klook.com

Ada sesuatu yang magis dalam perjalanan seorang koki. Bukan sekadar tentang pisau tajam dan api yang membara, tetapi tentang bagaimana setiap sentuhan, setiap aroma, dan setiap gigitan bisa membawa cerita yang mendalam. Blake Thornley paham betul akan hal ini. Lahir di Christchurch, Selandia Baru, dunia kuliner pertama kali menyapanya saat ia berusia 11 tahun di restoran pamannya, Icon Te Papa. Dari sana, dunia rasa tak pernah lagi terasa sama.

Blake bukan sekadar koki yang mahir mengolah bahan, ia adalah seorang peramu kisah dalam setiap hidangan. Perjalanannya membawanya dari dapur legendaris Charlie Trotter’s di Chicago, The Square di London, hingga Michael Mina di Las Vegas dan Pier di Sydney. Ia tidak sekadar mengasah pisau, tetapi juga intuisinya. Namun, satu hal yang selalu memanggilnya pulang: aroma rempah-rempah Indonesia.

mozaic ubud

Chef Blake Thornley  (Foto: Istimewa)

Menyatu dengan Rasa dan Tradisi di Ubud

Didirikan pada tahun 2001 oleh Chris Salans, Mozaic Restaurant Gastronomic Ubud telah lama menjadi ikon kuliner di Bali. Kini, di bawah kepemimpinan Chef Blake, restoran ini mengalami transformasi yang memadukan seni kuliner modern dengan kearifan lokal.

TRENDING:  Expat. Roasters Sekarang Ada di Bandara Juanda Surabaya

Di sini, setiap hidangan bukan sekadar makanan, melainkan sebuah perjalanan rasa yang menggabungkan bahan-bahan lokal dengan teknik kelas dunia. Chef Blake menghadirkan interpretasi baru terhadap cita rasa pan-Asia, memodernisasi hidangan dengan sentuhan artistik, mengubah sayuran, buah, dan biji-bijian menjadi mahakarya di atas piring.

Menawarkan berbagai pengalaman bersantap, Mozaic Restaurant Gastronomic Ubud menghadirkan The Dining Room, Tipple Room by Mozaic, Chef’s Table/Private Dining, hingga Romantic Gazebo, yang masing-masing dirancang untuk menghadirkan pengalaman berbeda bagi para tamu.

mozaic ubud

Menu-menu karya Chef Blake (Foto: Istimewa)

Dari Shanghai ke Bali

Setelah hampir enam tahun membawa Mozaic ke panggung dunia, Blake sempat meninggalkan jejaknya di Shanghai. Bergabung dengan OHA Group pada 2016, ia meluncurkan OHA Eatery, yang dalam waktu singkat menjadi salah satu restoran terbaik di kota itu. Bahkan, Condé Nast Traveler menobatkannya sebagai salah satu dari Top 10 Restaurants in the World, sementara TimeOut Shanghai menobatkannya sebagai Chef of the Year. Sebuah pengakuan yang tak bisa dianggap remeh.

TRENDING:  Bucket-List: 5 Tempat Fine-Dining yang Akan Bikin Terpukau dengan Singapura

Namun, panggilan rempah-rempah Indonesia terlalu kuat untuk diabaikan. Blake kembali ke Bali dengan satu misi: menghidupkan kembali Mozaic pasca-pandemi. Sebagai koki sekaligus pemilik, ia membawa visi baru, mengombinasikan keberlanjutan dengan tradisi kuliner Indonesia, serta menghadirkan sesuatu yang lebih dari sekadar pengalaman makan malam. Inilah tempat di mana gastronomi bertemu dengan kreativitas tanpa batas.

Tak berhenti di situ, ia juga memperkenalkan Tipple Room by Mozaic, ruang bersantap yang lebih santai, tetapi tetap menghadirkan keunggulan rasa dari dapur Mozaic. Sebuah tempat di mana elegansi dan kenyamanan berjalan beriringan.

Spice by Blake Thornley

Kesuksesan Mozaic hanya menjadi awal dari babak baru. Blake kini tengah menyiapkan proyek terbarunya, Spice by Blake Thornley, sebuah konsep berani yang akan menghadirkan masakan Indonesia dalam wajah modern. Menggunakan teknik kuliner terkini, ia berencana membawa warisan cita rasa Nusantara ke level yang lebih tinggi, mengajak para pencinta kuliner untuk menjelajahi rasa Indonesia dalam tampilan yang segar dan inovatif.

TRENDING:  Markette Kenalkan Menu Spesial Ramadan: Khas Indonesia dan Kaya Rasa!

Blake tidak hanya memasak, ia bercerita lewat hidangan-hidangannya. Dan bagi siapa pun yang ingin mencicipi kisahnya, Bali adalah tempatnya.

POPULAR

Share This Articles
Klook.com