Now Reading:

Menikmati Senja di Pererenan, dari Sentuhan Eropa Hingga Aroma Timur Tengah


Ada bagian Bali yang tak lagi mengejar sorotan, namun justru menemukan momentumnya sendiri saat malam turun perlahan. Pererenan adalah salah satunya. Begitu cahaya senja memudar, kawasan ini bergerak dalam ritme yang lebih tenang, tanpa musik keras, tanpa keramaian yang tergesa. Di sini, makan malam diperlakukan sebagai ritual: meja-meja diatur untuk percakapan panjang, dapur bekerja dengan keyakinan, dan setiap sajian hadir dengan alasan yang jelas. Pererenan bukan tentang tren, melainkan tentang keyakinan para chef pada rasa, teknik, dan waktu.

Bar Vera menjadi pintu masuk yang sempurna untuk memahami karakter kawasan ini. Di balik suasana wine bar yang hangat dan bersahaja, Benjamin Cross memainkan teknik Eropa klasik dengan produk lokal musiman yang dipilih tanpa kompromi. Menu berbagi menjadi bahasa utama, hamachi tartlet yang presisi, beef tartare dengan sentuhan sambal yang subtil, cappelletti buatan tangan dengan Comté dan truffle, hingga bebek dry-aged yang matang dengan keseimbangan rasa manis dan earthy. Bar Vera terasa personal, nyaris seperti ruang makan langganan, diperkuat dengan daftar wine yang dikurasi penuh empati serta koktail yang tidak mencari sensasi, melainkan kesenangan jangka panjang.

Bar Vera

Tak jauh dari sana, Shelter Pererenan berdiri sebagai jangkar kuliner kawasan ini. Stephen Moore, dengan pengalaman puluhan tahun di dapur-dapur penting dunia, membawa pendekatan api terbuka yang jujur dan bersahaja. Pengaruh Timur Tengah dan Mediterania hadir tanpa perlu dijelaskan. Terasa lewat chickpeas yang lembut dengan minyak paprika asap, terong panggang dengan tahini yang kaya, gurita lokal yang diberi arang secukupnya, hingga scallops dengan lemon butter dan sumac yang presisi.

Shelter Pererenan

Shelter Pererenan

Shelter bukan hanya soal hidangan, tetapi juga komunitas. Shelter Sessions di akhir pekan menjadikan meja makan sebagai ruang berbagi ide, kreativitas, dan generasi, dengan api sebagai pusat percakapan.

Artisan Pererenan melengkapi lanskap ini dengan pendekatan yang lebih refined, namun tetap membumi. Paolo Tancredi Arlotta meramu akar Italia dan pengalaman globalnya menjadi masakan yang terasa akrab sekaligus terukur. Risotto carnaroli dengan purée paprika kuning dan udang panggang tampil penuh kehangatan; gnocchi kentang dengan ragù bebek dan porcini diberi sentuhan dark cocoa yang nyaris tak terduga namun masuk akal; sementara ikan segar hari itu hadir dengan confit tomato beurre blanc yang bersih dan seimbang. Ruang makannya redup, bersahaja, dan mengundang fokus pada rasa, pada tekstur, dan pada momen.

Artisan Pererenan

Pererenan, pada akhirnya, menawarkan cara bersantap yang berbeda di Bali. Ini adalah kawasan bagi mereka yang menghargai konsistensi, relasi jangka panjang antara chef dan produsen, serta kesediaan untuk duduk lebih lama di meja makan. Tidak ada kebutuhan untuk terburu-buru. Yang ada hanyalah kepercayaan bahwa makan malam yang baik selalu pantas diberi waktu.

POPULAR

Share This Articles
Klook.com