California Wine & Cheese Experience: Saat Gastronomi California Menemukan Panggungnya… 1 October 2026 0
Di Ubud, sebuah steakhouse baru mencoba mempertemukan teknik European grill dengan ritual yang berakar pada filosofi Bali. Hasilnya bukan sekadar makan malam, melainkan sebuah perjalanan yang dimulai jauh sebelum steak menyentuh piring. Di RISERVA, destinasi fine dining baru di Kenderan, Ubud, makan malam justru diawali dengan rangkaian ritual. Tamu tidak langsung duduk, membaca menu, lalu menunggu hidangan pertama. Pengalaman dimulai dengan Gong Ritual, dilanjutkan Foot Wash Ritual, Seven Tirta, dan Final Purification. Setelah itu hadir pengalaman Wariga yang dipersonalisasi, welcome canapés atau Lungsuran, minuman sambutan, hingga Champagne Sabrage yang menandai peralihan menuju meja makan. Foto: Supplied Di sinilah RISERVA menjadi lebih menarik daripada sekadar restoran steak baru di Ubud. Konsepnya mempertemukan dua bahasa yang pada pandangan pertama terasa berbeda: contemporary European grill dengan ritual yang terinspirasi dari filosofi Bali. Ketika steakhouse belajar bahasa Bali Steakhouse secara tradisional identik dengan hal-hal yang cukup sederhana: api, daging, garam, pisau, dan wine. RISERVA mempertahankan elemen tersebut, tetapi menempatkannya dalam sebuah pengalaman yang jauh lebih berlapis. Di satu sisi, Chef Putu Armen berfokus pada bahan premium dan cuts yang dipersiapkan dengan presisi. Pilihannya termasuk Sanchoku Wagyu Picanha MB 8/9, Stone Axe Wagyu Bavette MB 8/9, Phoenix Wagyu Grain Fed T Bone 6/7, Stone Axe Fullblood Wagyu Striploin MB 8/9, Sir Harry Citrus Fed Wagyu Ribeye MB 9+, hingga A5 Miyazaki Japanese Wagyu Striploin. Heritage Pork Chop (Foto: Supplied) Di sisi lain, perjalanan menuju hidangan tersebut tidak dibuat tergesa-gesa. RISERVA membatasi pengalaman hanya untuk 16 tamu setiap malam, dengan satu sesi makan. Bahkan situs resminya menyebut pendekatan tersebut sebagai dining yang diperlakukan lebih sebagai ritual daripada sekadar sebuah hidangan. Dengan demikian, api dan daging tetap menjadi pusat perhatian, tetapi bukan satu-satunya cerita. Bali tidak ditempelkan sebagai dekorasi Yang membuat pendekatan RISERVA menarik adalah cara unsur Bali ditempatkan dalam pengalaman. Ia tidak semata hadir melalui ornamen interior, nama hidangan, atau penggunaan bahan lokal. Ritual justru ditempatkan sebelum dan di antara pengalaman bersantap. Ada Gong Ritual untuk membuka malam. Ada foot wash dan proses pemurnian. Ada Wariga yang menjadi pengalaman personal. Kemudian, setelah seluruh transisi tersebut, tamu memasuki dunia steak, wine, pisau, dan garam. Chef Putu Armen (Foto: Supplied) Dalam konteks Ubud, pendekatan ini terasa relevan. Kawasan ini memang telah lama menjadi ruang pertemuan antara hospitality internasional dan budaya Bali. Sejumlah properti luxury di Ubud juga memasukkan ritual atau pengalaman budaya ke dalam perjalanan tamu, dari pengalaman spiritual hingga jamuan yang terinspirasi tradisi Bali. Namun RISERVA mengambil jalur yang sedikit berbeda: bukan membawa tamu menikmati makanan Bali, tapi membawa cara pandang Bali ke dalam pengalaman menikmati steak. Perbedaannya tipis, tetapi penting. Ritual sebelum pisau menyentuh daging Setelah tiba di meja, pendekatan tersebut diteruskan melalui dua detail yang mungkin terdengar sederhana, tetapi justru memperlihatkan bagaimana RISERVA membangun pengalaman secara menyeluruh. Pertama adalah Seven Knives, koleksi pisau steak yang terinspirasi dari warisan Pande Bali dan tradisi para pengrajin logam di pulau tersebut. Tamu bahkan diberi kesempatan memilih pisau yang akan digunakan. Kemudian ada Seven Salts, koleksi garam artisanal dari Bali dan berbagai belahan dunia, termasuk Tejakula Salt dari Bali Utara. 7 knives (Foto: Supplied) Di restoran steak biasa, pisau dan garam mungkin hanya dianggap sebagai alat pendamping. Di RISERVA, keduanya diberi panggung tersendiri. RISERVA tidak berusaha menyamarkan identitasnya sebagai steakhouse bergaya Eropa. Api tetap menjadi bagian penting dari proses memasak. Potongan daging premium tetap menjadi daya tarik utama. Wine tetap memainkan peran besar dalam perjalanan makan malam. Program wine dikurasi oleh Sommelier I Putu Erawan Ari Widhiantika, Bali Best Sommelier 2025, dengan koleksi yang menjangkau berbagai kawasan penghasil wine di Eropa, Amerika, Oseania, dan Afrika Selatan. Program Coravin juga memberi pilihan untuk menikmati lebih banyak wine secara by the glass. Mungkin inilah bagian paling menarik dari RISERVA. Kemewahan di sini tidak terutama dibangun melalui daftar bahan mahal atau nama wine terkenal. Ia dibangun melalui ritme. Tamu tidak didorong untuk segera menyelesaikan satu course dan berpindah ke course berikutnya. Mereka justru diajak menikmati progresi malam secara perlahan. Dengan hanya 16 tamu, setiap bagian dari pengalaman memiliki ruang untuk berlangsung tanpa tekanan sebuah restoran berkapasitas besar. Setelah makan malam selesai, perjalanan bahkan belum langsung berakhir. Tamu diarahkan menuju Aura Lounge untuk melanjutkan percakapan ditemani petit desserts dan cocktail, sebelum malam benar-benar ditutup oleh lanskap lembah Ubud. POPULAROliverra, Sebuah Tafsir Baru Kuliner Pesisir87Di atas tebing-tebing putih Ungasan, tempat laut dan langit menyatu tanpa batas, Oliverra di Umana Bali membuka babak baru dalam…PONY Hadir di Berawa, Destinasi Social Dining Baru yang Wajib Dicoba di Bali87Ada tempat-tempat yang diciptakan bukan sekadar untuk bersantap, melainkan untuk membuat orang betah berlama-lama. Sebuah ruang yang mengundang percakapan mengalir,…KALA, Restoran Bergaya Yunani di Bukit Uluwatu86KALA Uluwatu - Tambahan terbaru di dunia kuliner yang ramai di Uluwatu, KALA Uluwatu secara resmi membuka pintunya pada Juni… TAGS :bali foodie Share This Articles Share this article
Menemukan Sisi Tenang Canggu di Seahaven Villas by Kamuela by Yudasmoro Minasiani 24, September, 2026
Bali yang Tak Ada di Brosur Wisata: Menemukan Pulau Dewata Lewat Orang-Orang yang Menjaganya by Febriyanti Salim 21, September, 2026
Kisah Cinta Rahasia di Balik La Réserve 1785, Hotel Eksklusif di Pererenan Bali by Yudasmoro Minasiani 18, September, 2026
7 Cara Menikmati Wellness Escape di Grand Hyatt Bali, dari Tennis hingga Ritual Melukat by Yudasmoro Minasiani 15, September, 2026
Alunê di W Bali – Seminyak: Ketika Luxury Travel Tak Lagi Soal Kemewahan, tapi Cara Menikmati Waktu by Novani Nugrahani 14, September, 2026
Tradisi Bali Bertemu Kreativitas Modern di Powerful Indonesia Festival 2026 by Febriyanti Salim 20, August, 2026
Shelter Sessions Vol. 12 Bawa Gastronomi Berbasis Api ke Pererenan by Febriyanti Salim 18, August, 2026
Kuliner Ubud Tengah Berevolusi: Chupacabras Tawarkan Steak Premium dengan Panorama Hutan Bali by Irma Andiani 6, July, 2026
Desain Sustainable Sebagai Masa Depan Pariwisata Global by Yudasmoro Minasiani 5, March, 2022 Dunia pariwisata memasuki babak baru dimana dampak bagi lingkungan kini menjadi pertimbangan dalam...
DoubleTree by Hilton Resmi Hadir di Singapura, Pilih Robertson Quay sebagai Rumah Pertamanya by Yudasmoro Minasiani 2, October, 2026 Singapura kembali memiliki alasan baru untuk menikmati kawasan tepi sungainya. Di Robertson Quay,...
Yasmin Hotel Karawaci Masuki Babak Baru, Kini Bernama Sapphire Sky Hotel Karawaci by Febriyanti Salim 2, October, 2026 Nama Yasmin Hotel Karawaci kini berganti. Mulai 1 Oktober 2026, hotel yang berada...
Bukan Sekadar Travel Fair, IKAPTRI Tourism Fair 2027 Satukan Energi Baru Pariwisata Indonesia by Yudasmoro Minasiani 2, October, 2026 Industri pariwisata Indonesia terus bergerak mengikuti perubahan zaman. Cara orang bepergian semakin dinamis,...