Now Reading:

Bukan Sekadar Steakhouse, RISERVA Membawa Ritual Bali ke Meja Fine Dining


Di Ubud, sebuah steakhouse baru mencoba mempertemukan teknik European grill dengan ritual yang berakar pada filosofi Bali. Hasilnya bukan sekadar makan malam, melainkan sebuah perjalanan yang dimulai jauh sebelum steak menyentuh piring.

Di RISERVA, destinasi fine dining baru di Kenderan, Ubud, makan malam justru diawali dengan rangkaian ritual. Tamu tidak langsung duduk, membaca menu, lalu menunggu hidangan pertama. Pengalaman dimulai dengan Gong Ritual, dilanjutkan Foot Wash Ritual, Seven Tirta, dan Final Purification. Setelah itu hadir pengalaman Wariga yang dipersonalisasi, welcome canapés atau Lungsuran, minuman sambutan, hingga Champagne Sabrage yang menandai peralihan menuju meja makan.

Foto: Supplied

Di sinilah RISERVA menjadi lebih menarik daripada sekadar restoran steak baru di Ubud. Konsepnya mempertemukan dua bahasa yang pada pandangan pertama terasa berbeda: contemporary European grill dengan ritual yang terinspirasi dari filosofi Bali.

Ketika steakhouse belajar bahasa Bali

Steakhouse secara tradisional identik dengan hal-hal yang cukup sederhana: api, daging, garam, pisau, dan wine. RISERVA mempertahankan elemen tersebut, tetapi menempatkannya dalam sebuah pengalaman yang jauh lebih berlapis.

Di satu sisi, Chef Putu Armen berfokus pada bahan premium dan cuts yang dipersiapkan dengan presisi. Pilihannya termasuk Sanchoku Wagyu Picanha MB 8/9, Stone Axe Wagyu Bavette MB 8/9, Phoenix Wagyu Grain Fed T Bone 6/7, Stone Axe Fullblood Wagyu Striploin MB 8/9, Sir Harry Citrus Fed Wagyu Ribeye MB 9+, hingga A5 Miyazaki Japanese Wagyu Striploin.

Heritage Pork Chop (Foto: Supplied)

Di sisi lain, perjalanan menuju hidangan tersebut tidak dibuat tergesa-gesa. RISERVA membatasi pengalaman hanya untuk 16 tamu setiap malam, dengan satu sesi makan. Bahkan situs resminya menyebut pendekatan tersebut sebagai dining yang diperlakukan lebih sebagai ritual daripada sekadar sebuah hidangan.

Dengan demikian, api dan daging tetap menjadi pusat perhatian, tetapi bukan satu-satunya cerita.

Bali tidak ditempelkan sebagai dekorasi

Yang membuat pendekatan RISERVA menarik adalah cara unsur Bali ditempatkan dalam pengalaman. Ia tidak semata hadir melalui ornamen interior, nama hidangan, atau penggunaan bahan lokal.

Ritual justru ditempatkan sebelum dan di antara pengalaman bersantap. Ada Gong Ritual untuk membuka malam. Ada foot wash dan proses pemurnian. Ada Wariga yang menjadi pengalaman personal. Kemudian, setelah seluruh transisi tersebut, tamu memasuki dunia steak, wine, pisau, dan garam.

Chef Putu Armen (Foto: Supplied)

Dalam konteks Ubud, pendekatan ini terasa relevan. Kawasan ini memang telah lama menjadi ruang pertemuan antara hospitality internasional dan budaya Bali. Sejumlah properti luxury di Ubud juga memasukkan ritual atau pengalaman budaya ke dalam perjalanan tamu, dari pengalaman spiritual hingga jamuan yang terinspirasi tradisi Bali.

Namun RISERVA mengambil jalur yang sedikit berbeda: bukan membawa tamu menikmati makanan Bali, tapi membawa cara pandang Bali ke dalam pengalaman menikmati steak. Perbedaannya tipis, tetapi penting.

Ritual sebelum pisau menyentuh daging

Setelah tiba di meja, pendekatan tersebut diteruskan melalui dua detail yang mungkin terdengar sederhana, tetapi justru memperlihatkan bagaimana RISERVA membangun pengalaman secara menyeluruh.

Pertama adalah Seven Knives, koleksi pisau steak yang terinspirasi dari warisan Pande Bali dan tradisi para pengrajin logam di pulau tersebut. Tamu bahkan diberi kesempatan memilih pisau yang akan digunakan.

Kemudian ada Seven Salts, koleksi garam artisanal dari Bali dan berbagai belahan dunia, termasuk Tejakula Salt dari Bali Utara.

7 knives (Foto: Supplied)

Di restoran steak biasa, pisau dan garam mungkin hanya dianggap sebagai alat pendamping. Di RISERVA, keduanya diberi panggung tersendiri. RISERVA tidak berusaha menyamarkan identitasnya sebagai steakhouse bergaya Eropa. Api tetap menjadi bagian penting dari proses memasak. Potongan daging premium tetap menjadi daya tarik utama. Wine tetap memainkan peran besar dalam perjalanan makan malam.

Program wine dikurasi oleh Sommelier I Putu Erawan Ari Widhiantika, Bali Best Sommelier 2025, dengan koleksi yang menjangkau berbagai kawasan penghasil wine di Eropa, Amerika, Oseania, dan Afrika Selatan. Program Coravin juga memberi pilihan untuk menikmati lebih banyak wine secara by the glass.

Mungkin inilah bagian paling menarik dari RISERVA. Kemewahan di sini tidak terutama dibangun melalui daftar bahan mahal atau nama wine terkenal. Ia dibangun melalui ritme.

Tamu tidak didorong untuk segera menyelesaikan satu course dan berpindah ke course berikutnya. Mereka justru diajak menikmati progresi malam secara perlahan. Dengan hanya 16 tamu, setiap bagian dari pengalaman memiliki ruang untuk berlangsung tanpa tekanan sebuah restoran berkapasitas besar.

Setelah makan malam selesai, perjalanan bahkan belum langsung berakhir. Tamu diarahkan menuju Aura Lounge untuk melanjutkan percakapan ditemani petit desserts dan cocktail, sebelum malam benar-benar ditutup oleh lanskap lembah Ubud.

 

POPULAR

Share This Articles
Klook.com